ASIAWORLDVIEW – Polusi udara masih menjadi isu serius di Indonesia. Data World Health Oganization. menunjukkan bahwa Indonesia pernah masuk dalam 10 negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia.
Kondisi ini juga diperkuat oleh laporan Nafas Indonesia (Laporan Kualitas Udara Indonesia 2024) yang mencatat Jabodetabek dan Bandung Raya sebagai wilayah dengan polusi tertinggi selama 2024. Kemudian, disusul Semarang, Malang Raya, DI Yogyakarta, dan Surabaya.
Konsentrasi partikel mikro PM2.5 menjadi perhatian utama. Berdasarkan laporan Nafas Buka Data (Mei–Juni 2025), rata-rata konsentrasi bulanan PM2.5 di Indonesia pada Juni 2025 mencapai 32,3 µg/m³. Angka ini enam kali lipat di atas batas aman WHO (5 µg/m³) dan lebih dari dua kali ambang batas nasional (15 µg/m³). PM2.5 sendiri adalah partikel polusi udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, atau setara 36 kali lebih kecil dari diameter sebutir pasir yang tidak terlihat oleh mata, mudah terhirup, dan dapat menempel di berbagai permukaan, termasuk pakaian.
“PM2.5 bisa masuk ke paru-paru dan menembus aliran darah, meningkatkan risiko gangguan kesehatan,” jelas Dinda Shabrina, Research & Collaboration Manager NAFAS Foundation, sebuah inisiatif nirlaba Nafas Indonesia yang berfokus pada kualitas udara melalui misi sosial, edukasi, dan riset dalam acara WINGS Care luncurkan SoKlin Liquid Nature Fresh Detox sebagai Solusi Andal untuk Menjawab Tantangan Polusi Udara di Indonesia.
Baca Juga: Pakaian Olahraga Hijab Inovasi ASICS untuk Perempuan Aktif
Pousi berbentuk partikel mikroskopis, polutan seperti debu halus, asap, atau residu kimia dapat dengan mudah menempel pada permukaan kulit dan serat pakaian. Sifatnya yang ringan dan tak kasat mata membuat partikel ini sulit terdeteksi, sehingga paparan terhadap zat berbahaya bisa terus berlangsung meskipun seseorang telah meninggalkan area berpolusi.
“Karena bentuknya partikel, ia bisa menempel di kulit dan pakaian, memperpanjang paparan bahkan setelah kita meninggalkan area berpolusi. Meski hujan dan angin bisa menurunkan polusi sementara, partikel ini sebenarnya hanya berpindah, jatuh ke permukaan mencemari tanah, air, tanaman, atau terhirup tubuh,”ia menambahkan.
Akumulasi partikel di kulit dan pakaian berpotensi meningkatkan risiko iritasi, gangguan pernapasan, atau efek kesehatan jangka panjang, terutama jika tidak segera dibersihkan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kebersihan diri dan pakaian setelah beraktivitas di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi guna meminimalkan dampak residu partikel terhadap tubuh.
“Kita bisa proaktif meningkatkan kesadaran, seperti rutin memantau tingkat polusi secara real-time, untuk membantu kita mengambil langkah mitigasi personal sembari mendorong solusi dari sisi sumber,” pungkasnya.
