ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan sesi yang sangat volatil pada Jumat (22/10/2026), dengan pembalikan arah yang dramatis. Kondisi ini mencerminkan pertarungan sengit antara tekanan jual dan minat beli di tengah ketidakpastian regulasi serta sentimen global. IHSG dibuka merosot tajam 133,86 poin atau 2,51 persen ke level 5.194,49, bahkan sempat menyentuh titik terendah harian di 5.185,52—level yang mencerminkan kepanikan awal pasar. Namun, tekanan jual tersebut tidak bertahan lama.
Dalam hitungan menit, indeks berbalik arah dan melesat ke zona hijau, mencapai level tertinggi harian di sekitar 5.384 pada pukul 10.16 WIB, atau naik sekitar 1,05 persen dari posisi penutupan sebelumnya di 5.328,36. Hingga pukul 10.00 WIB, IHSG tercatat menguat 67,88 poin atau 1,27 persen ke posisi 5.396,24, dengan Indeks LQ45 naik 7,18 poin atau 1,34 persen ke 542,94.
Pembalikan arah ini didorong oleh beberapa faktor domestik yang memberikan angin segar bagi pasar. Salah satu katalis utama adalah keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen untuk bulan keempat berturut-turut, sebuah keputusan yang di luar perkiraan sebagian analis yang sempat mengantisipasi kenaikan. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen, sementara Lending Facility tetap di 6,50 persen.
Baca Juga: BI Soroti Tekanan Global, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tetap Tangguh
Lebih dari itu, bank sentral mengumumkan rencana penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap—dari 9 persen menjadi 7 persen untuk bank umum konvensional mulai November hingga Desember 2026—yang berpotensi melepaskan likuiditas sekitar Rp190 triliun ke sistem perbankan. Kebijakan ini dipandang sebagai upaya untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan kredit dan likuiditas pasar.
Dari sisi sektoral, penguatan IHSG ditopang oleh saham-saham perbankan dan energi. Empat bank besar—yang menjadi pemberat indeks dalam beberapa sesi terakhir—kompak mencatat kenaikan sekitar 1,8 hingga 2,5 persen. Saham Merdeka Battery Materials melesat 4 persen, disusul Aneka Tambang yang menguat 3,3 persen, sementara sektor kesehatan dan barang konsumsi nonprimer juga turut menghijau. Namun, rebound ini tidak sepenuhnya merata; beberapa saham big cap seperti MORA, TPIA, dan CUAN masih tertekan di awal sesi, meskipun akhirnya ikut terkerek oleh sentimen positif secara keseluruhan.
Meski demikian, bayang-bayang ketidakpastian belum sepenuhnya hilang. Isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih menjadi beban psikologis utama. Presiden Prabowo Subianto bahkan secara terbuka menanggapi isu ini dalam Sidang Kabinet Paripurna, dengan menyebut langkah MSCI sebagai bentuk tekanan yang bertujuan menakut-nakuti pelaku pasar.
Namun, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi tantangan tersebut. Di sisi lain, otoritas bursa telah merespons dengan serangkaian kebijakan, termasuk penyesuaian batas Auto Rejection Bawah (ARB) menjadi 7 persen yang berlaku hingga akhir Desember 2026, pengungkapan afiliasi kepemilikan saham di atas 1 persen, serta pengecualian 80 saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Langkah-langkah ini merupakan upaya konkret untuk merespons kekhawatiran MSCI terkait transparansi dan konsentrasi kepemilikan.

