ASIAWORLDVIEW – Di balik gemerlap panggung fashion dan rak-rak display yang tertata rapi, ada percakapan yang jarang terdengar: tentang mereka yang kehilangan tempat berlindung. Anak-anak yang belajar di tenda darurat. Bahkan penyintas disabilitas yang membutuhkan alat bantu di lokasi bencana Nusa Tenggara Timur.
Dalam gelaran DRAFT IFDC Pop-Up Store Installation yang berlangsung pada 2–30 September 2026 di Senayan City, hasil penjualan karya 22 desainer Indonesian Fashion Designers Council (IFDC) disalurkan sebagai dana donasi untuk membantu masyarakat terdampak bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui YCAB Foundation. Namun, di balik penyerahan simbolis yang berlangsung di MeraDelima, Jakarta, pada Selasa (20/10/2026), ada kesadaran yang lebih jujur: bantuan ini baru menyentuh permukaan dari kebutuhan yang sangat besar.
Respons darurat tidak berhenti pada pangan dan pakaian. Ada perangkat sekolah, alat belajar-mengajar, dan kepedulian terhadap barang-barang yang sifatnya sekali pakai (disposable) yang perlu dipikirkan ulang.
“Karena kan anak-anak masih sekolahnya masih di kemah gitu ya. Jadi, mereka butuh alat belajar,” sebut Liliana Lim, Bendahara IFDC/IPMI saat menjawab pertanyaan Asia World View.
Baca Juga: Kemeja Putih Berbicara: Ketika Desainer Indonesia Mengubah Estetika Menjadi Donasi untuk NTT
Ini juga menjadi pengingat bahwa kebutuhan penyintas tidak homogen. Ada kelompok yang membutuhkan alat bantu khusus, dan mereka sering kali terlewat dalam distribusi bantuan yang bersifat massal.
“Ada juga kaum difabel yang butuh alat bantu. Perempuan yang ternyata juga kekurangan kebutuhan dasar, seperti pembalut. Kami berhaap, setidaknya ini bisa membantu,” tambahnya.
Cotton USA mendukung material yang digunakan dalam membuat kemeja putih. Sementara, Senayan City menjadi ruang bagi karya para desainer untuk bertemu dengan publik. Sementara YCAB Foundation menjadi mitra dalam penyaluran bantuan.
Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana ekosistem fashion—dari penyedia material, ritel, desainer, hingga lembaga sosial—dapat mengambil peran dalam isu sosial yang lebih luas. Kesadaran akan keterbatasan menjadi bagian penting dari cerita itu sendiri.
“Kegiatan ini menjadi fashion berhenti menjadi soal estetika semata dan berubah menjadi alat untuk mengingatkan bahwa di balik setiap kemeja putih yang dirancang dengan penuh cinta, ada realitas yang tidak seindah runway,” ia menambahkan.
