ASIAWORLDVIEW – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 16 hingga 17,6 juta orang pada 2026. Kondisi ini menunjukkan optimisme pemerintah terhadap kebangkitan sektor pariwisata nasional sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
“Sektor pariwisata menargetkan 16 hingga 17,6 juta pengunjung asing pada 2026 dan devisa sekitar USD24 miliar. Angka ini sebanding dengan nilai ekspor minyak sawit,” katanya dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026).
Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah mengandalkan enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata yang dirancang menjadi magnet investasi, pusat pengembangan destinasi unggulan, sekaligus pintu masuk wisatawan asing ke Indonesia. Kehadiran KEK pariwisata diharapkan mampu menghadirkan fasilitas berstandar internasional, meningkatkan kualitas layanan wisata, serta menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih menarik bagi wisatawan global.
Keenam KEK tersebut meliputi KEK Mandalika, KEK Kura-Kura Bali, KEK Tanjung Kelayang, KEK Tanjung Lesung, KEK Lido, dan KEK Likupang. Menteri juga menguraikan potensi ekonomi beberapa KEK pariwisata pada 2027. Menurutnya, KEK Kura-Kura Bali ditargetkan menarik 600.000 wisatawan dengan nilai ekonomi Rp600 miliar, terutama setelah outlet di kawasan tersebut mulai beroperasi. Kawasan ini juga diproyeksikan menghasilkan devisa USD3,66 miliar.
Baca Juga: Pemerintah Dorong Pemanfaatan AI untuk Pariwisata
Sementara itu, KEK Mandalika diproyeksikan menarik 1,6 juta wisatawan dengan nilai ekonomi Rp8,6 triliun. KEK Tanjung Lesung menyusul dengan target 1,5 juta kunjungan wisatawan, menghasilkan estimasi nilai ekonomi Rp3 triliun. Untuk KEK Lido, pemerintah menargetkan 220.000 kunjungan wisatawan dengan nilai ekonomi Rp352 miliar. Kawasan ini juga diproyeksikan menghasilkan devisa USD1,8 miliar.
“Pencapaian target pariwisata memerlukan dukungan promosi dan konektivitas. Kami berharap Kementerian Pariwisata mengoordinasikan promosi KEK secara nasional dan internasional, meningkatkan keterampilan tenaga kerja pariwisata, dan mengembangkan kalender acara pariwisata,” ia menambahkan.
Selain mendorong peningkatan jumlah kunjungan, pengembangan KEK juga diharapkan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan usaha mikro dan menengah, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga bertambahnya devisa negara.
Strategi ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tengah persaingan destinasi wisata global yang semakin ketat, sekaligus menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu tulang punggung ekonomi berkelanjutan di masa depan.
