ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang rapuh dengan kembali bertengger di atas level psikologis USD83.000, Rabu (21/10/2026). Tekanan dari pasar obligasi dan ketidakpastian makro masih membatasi ruang geraknya.
Berdasarkan data CoinMarketCap yang diakses pada pukul 07:08 WIB, Bitcoin diperdagangkan di level USD82.886,55 per keping, atau setara dengan sekitar Rp1,49 milia. Dalam 24 jam terakhir, harga tercatat naik sekitar 1,41 persen, sementara dalam sepekan menguat tipis 0,33 persen. Sumber data lain memberikan variasi yang cukup lebar.
Pergerakan intraday hari ini memperlihatkan dinamika tarik-menarik yang khas antara pembeli dan penjual. Bitcoin sempat melesat ke arah USD83.200 pada awal sesi, namun gagal menembus level tersebut dan kembali mundur untuk mencari support di sekitar USD82.600. Dalam laporan KuCoin, level support kunci berada di kisaran USD82.400 hingga USD82.600.
Data Coinglass mencatat total likuidasi di pasar kripto dalam 24 jam mencapai USD335 juta, dengan sebagian besar posisi long yang terpaksa ditutup—sebuah indikasi bahwa pasar sempat mencoba mendorong harga naik, tetapi momentumnya belum cukup kuat untuk bertahan.
Baca Juga: Tether Tanggapi Tuduhan Senat AS Terkait Jaringan Keuangan Iran
Dari sisi sentimen makro, ada beberapa faktor yang saling bertentangan dan menciptakan lingkungan yang tidak pasti bagi Bitcoin. Di satu sisi, aliran dana masuk ke ETF kripto memberikan dukungan positif: data menunjukkan inflow bersih sebesar USD526,7 juta dalam satu hari, yang terbesar dalam hampir sebulan, dengan Nasdaq yang juga rebound 1,1 persen turut memperbaiki selera risiko investor.
Kenaikan harga Bitcoin pada awal sesi disebut-sebut didorong oleh rebound saham teknologi AS dan penurunan harga minyak dari level di atas USD100 per barel ke bawah USD96, yang meredakan kekhawatiran inflasi. Namun, di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun masih bertahan di atas 5,13 persen, dan Brent crude berada di sekitar USD110 per barel.
Dari perspektif teknikal, Bitcoin saat ini berada di persimpangan yang menentukan antara kelanjutan rebound dan risiko penurunan lebih dalam. Analis mencatat bahwa harga masih bertahan di atas 50-day simple moving average (SMA) yang berada di sekitar USD81.570.
Namun, 21-day SMA di sekitar USD83.230 bertindak sebagai resistance jangka pendek yang belum mampu ditembus. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) berada di angka 53,34, masih di wilayah netral dan jauh dari zona overbought, menunjukkan bahwa belum ada tekanan beli yang berlebihan.
Untuk skenario bullish, Bitcoin perlu menembus dan bertahan di atas USD83.200 hingga USD83.400; jika berhasil, target berikutnya adalah USD87.371, level yang jika ditembus dapat mengonfirmasi kelanjutan rebound. Sebaliknya, jika support di USD80.433 jebol, harga berpotensi turun lebih dalam menguji USD76.140.
Menariknya, di tengah keraguan pasar spot, aktivitas whale menunjukkan sinyal yang berbeda. Seorang pemain besar terdeteksi membeli 500 set bull spread Bitcoin dengan strike price USD90.000 dan USD95.000, yang akan jatuh tempo pada akhir bulan ini—sebuah taruhan arah yang jarang terjadi dan menunjukkan ekspektasi bahwa harga mungkin akan bergerak lebih tinggi sebelum akhir Oktober . Namun, data on-chain juga menunjukkan bahwa rasio whale di Binance turun dari 0,54 pada awal Oktober menjadi 0,45, yang mengindikasikan melambatnya aktivitas deposit besar.

