ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan dan bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026). Berdasarkan data, rupiah dibuka di kisaran Rp17.948 hingga Rp17.954 per dolar AS, melemah sekitar 0,25-0,28 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa mata uang domestik masih menghadapi tantangan besar dari sentimen global yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara berkembang.
Dari perspektif ekonomi makro, pelemahan rupiah kali ini terutama dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat. Data inflasi AS yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan memunculkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka ruang bagi pengetatan tambahan. Situasi tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global, sehingga terjadi penguatan dolar dan perpindahan dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan internasional. Menurut penjelasan Bank Indonesia, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda telah menjaga harga minyak dunia tetap tinggi, bahkan berada di atas USD105 per barel. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal di berbagai negara. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Baca Juga: Indonesia Bidik Pasar Global Lewat Kekuatan Industri Modest Fashion
Penguatan dolar semakin terlihat dari kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) yang sempat mencapai level tertinggi sejak Mei 2025. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tenor dua tahun juga meningkat hingga sekitar 4,90 persen. Kombinasi antara dolar yang semakin kuat dan kenaikan imbal hasil obligasi AS menciptakan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil yang lebih menarik di Amerika Serikat.
MBank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 berada di level USD146,3 miliar, yang memberikan ruang yang cukup bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar. Bank Indonesia juga menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valas melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder guna memastikan pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.
Menariknya, meskipun rupiah mendekati level terlemahnya dalam beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia menilai pelemahan tersebut masih sejalan dengan tren yang terjadi pada mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date, rupiah tercatat hanya melemah sekitar 0,17 persen, menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi lebih banyak berasal dari faktor eksternal dibandingkan persoalan domestik. Hal ini mengindikasikan bahwa stabilitas ekonomi dalam negeri masih relatif kuat, meskipun harus menghadapi dinamika global yang kurang mendukung.
Dengan pasar masih menunggu arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi global, serta situasi geopolitik internasional, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan akan tetap berfluktuasi. Selama sentimen global masih didominasi oleh penguatan dolar AS, nilai tukar rupiah berpotensi bertahan di kisaran Rp17.900 hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS sebelum mendapatkan katalis positif yang mampu mendorong penguatan kembali.

