Indonesia Bidik Pasar Global Lewat Kekuatan Industri Modest Fashion

ASIAWORLDVIEW – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai industri busana modest atau fesyen muslim Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menembus pasar internasional. Tidak hanya di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim, tetapi juga di kawasan Eropa dan negara-negara non-Muslim lainnya. Menurutnya, daya saing busana modest Indonesia terletak pada kekayaan budaya yang dimiliki setiap daerah, yang tercermin dalam beragam motif, corak, teknik pengerjaan, serta desain yang unik dan berbeda dari produk fesyen negara lain.

“Potensi ini sebenarnya tidak hanya untuk negara-negara Muslim, tetapi juga untuk negara-negara Eropa, negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim,” kata Harsya pada pembukaan IN2Motion Fest x JMFW 2026 pada Rabu (14/10/2026).

Keunggulan tersebut menjadi nilai tambah yang dapat menarik minat pasar global yang saat ini semakin mengapresiasi produk fashion yang mengedepankan identitas budaya, kualitas, dan keberlanjutan. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, desainer, komunitas kreatif, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya guna memperkuat ekosistem modest fashion.

“Modest fashion Indonesia menonjol berkat warisan budayanya dan desain-desain khas daerah, yang masing-masing memiliki ciri khas yang membedakannya dari produk-produk negara lain,” ia menambahkan.

Baca Juga: Jakarta Fashion Week 2027 Angkat Persaudaraan Asia Tenggara Lewat Warisan Tekstil

Pemerintah juga berupaya membuka akses pasar yang lebih luas, memperkuat jejaring bisnis internasional, serta mendorong pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab. Selain itu, perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi aspek penting agar desain, motif, dan merek karya anak bangsa dapat terlindungi serta memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi para kreator dan pelaku usaha.

“Acara ini juga memberikan kesempatan bagi kementerian untuk memperkuat industri kreatif, khususnya subsektor mode, dengan memperluas akses pasar, mengembangkan jaringan bisnis, serta mempromosikan penggunaan teknologi digital yang bertanggung jawab, termasuk kecerdasan buatan (AI),” tambahnya.

Untuk merealisasikan potensi ini, diperlukan kolaborasi di antara berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat ekosistem mode sopan dalam negeri serta menghubungkan karya-karya kreatif Indonesia dengan industri dan pasar global.

“Ini adalah peluang luar biasa dan membutuhkan kolaborasi dari semua pihak,” ia menjelaskan.

Pemerintah juga akan menerbitkan peta jalan AI yang mencakup pedoman etika dalam penggunaan teknologi tersebut, katanya.

Penggunaan AI yang bertanggung jawab sangat penting untuk memastikan bahwa karya para kreator tetap terlindungi, kata Harsya, sambil menekankan bahwa perlindungan kekayaan intelektual dan komersialisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk kreatif Indonesia.

“Desain, motif, dan merek bukan sekadar identitas produk, melainkan juga aset ekonomi yang perlu dilindungi dan dikembangkan agar memberikan manfaat optimal bagi para kreator dan pelaku usaha,” pungkasnya.

Ia berharap IN2Motion Fest, yang diselenggarakan bekerja sama dengan JMFW 2026, dapat menjadi jembatan yang menghubungkan karya-karya kreatif, industri, dan pasar global. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia, kementerian dan lembaga terkait, Indonesia Fashion Chamber (IFC), serta mitra strategis lainnya atas dukungan mereka terhadap acara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *