ASIAWORLDVIEW – Jakarta Fashion Week (JFW) 2027 kembali digelar sebagai salah satu ajang mode terbesar dan paling bergengsi di Indonesia, menghadirkan karya desainer ternama maupun talenta muda dalam sebuah perayaan kreativitas, budaya, dan inovasi fashion nasional. Mengusung tema “The Legacy of Style”, acara ini menjadi wadah bagi industri mode untuk menampilkan koleksi terbaru yang memadukan warisan budaya Indonesia dengan tren global modern.
Selain peragaan busana, acara ini juga menjadi platform kolaborasi bagi desainer, pelaku industri kreatif, merek fashion, dan mitra internasional untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat mode di Asia Tenggara. Ajang ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan industri fashion nasional, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk dan desainer Indonesia di kancah global.
Svida Alisjahbana, Ketua Jakarta Fashion Week dan CEO perusahaan media gaya hidup GCM Group, dalam konferensi pers Jakarta Fashion Week 2027, Selasa (13/10/2026), menjelaskan kegiatan ini mendapatkan sebuah semangat baru. Langkah ini juga diwujudkan melalui kemitraan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Lebih dari sekadar perhelatan mode tahunan, Jakarta Fashion Week kali ini mengangkat tema yang lebih dalam, yaitu merayakan sebuah kali persaudaraan dengan negara-negara Asia Tenggara,” ia mengatakan.
Baca Juga: Fashion Show Unik di 2MadisonAvenue, Kental dengan Nuansa Nusantara
Dalam pernyataannya, Svida menekankan bahwa ada sejarah panjang yang menghubungkan kawasan ini, khususnya melalui jalur perdagangan kain dan tekstil. Ia menyebut bahwa jika ditarik ke atas, sekitar abad ke-16 hingga ke-17, terdapat jaringan perdagangan yang menghubungkan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.
“Kain-kain dari berbagai daerah dipenuhi dan dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa itu. Tradisi ini kemudian terus dibawa dan diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari identitas budaya yang mengalir begitu saja melintasi batas-batas negara,” ia menmabahkan.
Sebagai bagian dari perayaan tersebut, Museum Nasional akan mempersembahkan beberapa kain dari negara-negara Asia Tenggara, memperlihatkan kekayaan warna dan motif yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Svida menyebut contoh kain juntutan yang memiliki warna merah khas, meskipun ia juga mengakui bahwa detail sejarahnya mungkin baru tercatat pada abad ke-20. Kain-kain tersebut datang dari berbagai negara seperti Kamboja dan Malaysia, menunjukkan bagaimana perdagangan dan budaya mengalir secara alami di kawasan ini.
Ia juga menyoroti adanya warisan UNESCO Heritage yang melibatkan lima negara, di mana lima budaya dari lima negara tersebut didesain sebagai kewarisan budaya. Masing-masing karya, tambahnya, dibuat dengan warna khusus yang melambangkan identitasnya.
“Ada seorang tokoh atau kunci dari negara tersebut yang selalu berdaya dan indah di atas budaya itu, menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ini adalah sesuatu yang membawa kita kembali ke masa lalu Asia Tenggara, ke masa kerajaan-kerajaan besar yang pernah berjaya, namun kini ditemui kembali dan dihidupkan dalam konteks yang baru,” jelasnya.
Svida tidak hanya berbicara tentang nostalgia sejarah, tetapi juga tentang bagaimana masa lalu tersebut dapat menjadi fondasi untuk masa depan. Ia mengajak untuk berpikir bahwa masa depan kawasan ini adalah persaudaraan yang harus terus dijaga. Industri mode dan ekonomi kreatif, pesan ini memiliki implikasi yang signifikan.
“Jakarta Fashion Week tidak hanya menjadi ajang promosi produk fashion, tetapi juga platform untuk memperkuat identitas budaya regional, membangun jejaring lintas negara, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berbasis pada warisan budaya,” pungkasnya.
