Pertamina Sukses Kembangkan Biofuel dari Limbah FOG, Eksplorasi Produksi Sustainable Aviation Fuel

Bandara Seoakrno-Hatta, Tangerang.

ASIAWORLDVIEW – PT Pertamina (Persero) dan Perusahaan Umum Daerah Pengelolaan Air Limbah Jaya (PAL Jaya) resmi menjajaki potensi pemanfaatan Fat, Oil, and Grease (FOG). Hal ini diakui sebagai bahan baku biofuel, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF), dalam sebuah langkah strategis yang menandai konvergensi antara sektor energi dan pengelolaan air limbah.

Penjajakan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) oleh Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dan Direktur Utama PAL Jaya, Untung Suryadi, di Balai Agung, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta. MoU ini menjadi titik awal bagi kedua pihak untuk mengeksplorasi peluang pemanfaatan FOG yang dihasilkan dan/atau dikelola PAL Jaya sebagai sumber bahan baku alternatif untuk pengembangan biofuel.

“Langkah ini mencerminkan pergeseran paradigma yang signifikan, di mana limbah yang selama ini dipandang sebagai beban biaya pengelolaan justru diposisikan sebagai aset produktif yang memiliki nilai tambah ekonomi,” sebut Pramono Anung.

Pendekatan ini sejalan dengan semangat ekonomi sirkular, yaitu memandang limbah bukan sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan untuk menciptakan nilai baru. Jadi, lingkungan tetap aman.

Baca Juga: Pertamina Siapkan Infrastruktur Bioetanol, Luncurkan Pertamax Green 95

Bagi Pertamina, penjajakan ini merupakan bagian dari upaya pengembangan low-carbon business melalui optimalisasi potensi sumber daya alternatif. Pendekatan waste to energy yang diusung membuka peluang untuk mengidentifikasi pemanfaatan limbah yang memiliki nilai tambah sekaligus mendukung pengembangan energi rendah karbon.

“Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan bagian dari inisiatif Pertamina menuju transisi energi bersih, sekaligus mendukung upaya pencapaian target emisi rendah karbon secara berkelanjutana,” tambahnya.

Pemanfaatan FOG sebagai bahan baku biofuel dan SAF memiliki daya tarik ekonomi yang kuat karena FOG merupakan limbah yang tersedia melimpah, terutama di kawasan urban padat seperti DKI Jakarta, dan selama ini pengelolaannya membutuhkan biaya yang tidak kecil. Dengan mengonversi FOG menjadi bahan bakar bernilai tinggi, biaya pengelolaan limbah dapat ditekan sekaligus menciptakan aliran pendapatan baru dari produk energi yang dihasilkan.

Dari sisi PAL Jaya, kerja sama ini membuka peluang untuk mengubah posisi lembaga pengelola air limbah dari sekadar penyedia jasa sanitasi menjadi mitra strategis dalam rantai pasok energi. FOG yang selama ini menjadi bagian dari beban operasional pengolahan air limbah, jika dikelola dengan pendekatan ekonomi sirkular, dapat menjadi komoditas yang memiliki nilai jual. Ini merupakan contoh nyata bagaimana efisiensi ekonomi dapat dicapai melalui integrasi lintas sektor, di mana limbah dari satu proses menjadi input bagi proses lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *