Viral Bayi Diduga Meninggal usai Diberi Telur Mentah, IDAI Ingatkan Bahaya Salmonella

Salmonella.

ASIAWORLDVIEW – Viral seorang bayi di Surabaya yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Kabar ini tentu membuat hati kita terasa berat, sekaligus menjadi pengingat bahwa pemberian makanan pada bayi bukanlah hal yang bisa dianggap sepele.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara tegas mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Hal itu karena berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna atau yang dikenal sebagai salmonelosis.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena alasan keamanan pangan. Bayangkan, sesuatu yang terlihat sederhana seperti telur setengah matang yang sering kita anggap aman, ternyata bisa menyimpan bahaya besar bagi pencernaan si kecil yang masih sangat rentan.

Baca Juga: Fakta Tragedi Bayi 24 Hari Meninggal Setelah Diberi Telur Mentah

“Infeksi Salmonella atau salmonelosis dapat menimbulkan gejala yang tidak ringan, seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi ini bisa berlangsung jauh lebih berat dibandingkan pada orang dewasa, dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius yang membahayakan nyawa,” ia mengatakan.

“Karena itu, sebagai orang tua, kita perlu benar-benar memahami bahwa prinsip utama dalam pemberian makanan kepada bayi adalah memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan yang tidak kalah penting adalah keamanan pangan. IDAI sendiri menegaskan bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, dan mendukung penuh rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan,” ia menambahkan.

Setelah itu, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) umumnya dimulai ketika bayi berusia enam bulan dan dilanjutkan bersama ASI hingga usia dua tahun atau lebih. Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan, tetapi hanya berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. Yang jelas, pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan sama sekali.

IDAI justru menjelaskan bahwa telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung zat gizi penting bagi pertumbuhan anak. Telur boleh diperkenalkan sebagai salah satu bahan MPASI, tentu sesuai dengan usia dan kesiapan bayi. Kuncinya adalah memastikan telur dimasak hingga putih dan kuning telurnya benar-benar matang sempurna.

“Jadi, bukan berarti kita menghindari telur, melainkan kita mengolahnya dengan benar. Selain memperhatikan kematangan telur, IDAI juga mengimbau kita sebagai orang tua dan pengasuh untuk selalu menjaga kebersihan saat mengolah makanan, mencuci tangan dan peralatan masak, mencegah kontaminasi silang antara bahan mentah dan matang, serta menghindari penggunaan telur yang retak atau rusak,” ia menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *