ASIAWORLDVIEW – Pasar Bitcoin (BTC) kembali diwarnai oleh dinamika konsolidasi yang menegangkan, di mana harga bergerak dalam rentang terbatas namun sarat akan tekanan jual yang signifikan. Berdasarkan data Tokocrypto, harga BTC pada Rabu (7/10/2026) pagi berada di sekitar USD85.063,18, turun 0,66% dalam 24 jam terakhir.
Pelemahan ini terjadi setelah Bitcoin sempat menyentuh titik tertinggi harian di USD86.664,54, namun gagal mempertahankan momentumnya dan kembali terperosok ke bawah level USD86.000. Data dari CoinMarketCap yang dikutip pada pukul 08:00 waktu setempat mencatat harga yang sedikit lebih tinggi di USD85.544,66, dengan penurunan 0,41% dari 24 jam sebelumnya.
Faktor utama yang menekan pergerakan Bitcoin hari ini bukanlah katalis negatif tunggal yang spesifik, melainkan kombinasi dari aksi ambil untung (profit taking) yang berkelanjutan dan tembok resistensi besar di sekitar level USD87.000. Sejak 23 September 2026, Bitcoin telah tiga kali mencoba menembus level USD87.000 dan selalu gagal, dengan setiap upaya pembelian agresif diserap oleh tumpukan order jual yang tebal di kisaran USD86.700 hingga USD87.570.
Baca Juga: Bitcoin Gagal Breakout, Tertahan di USD86.000
Dari sisi sentimen makro, ada beberapa faktor yang seharusnya menjadi angin segar bagi Bitcoin, namun nyatanya belum mampu mendorong harga secara signifikan. Imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 10 tahun telah turun ke 5,28% dari level tertinggi dalam 24 tahun, dan yield tenor 30 tahun juga melandai ke 5,65%. Penurunan ini sejalan dengan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, di mana probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Oktober kini hanya sekitar 19%, turun drastis dari sekitar 50% pada pekan sebelumnya.
Pasar saham AS pun merespons positif dengan mencetak rekor baru: S&P 500 naik 0,58% ke 7.818,95 dan Nasdaq Composite menguat 0,45% ke 27.599,79, didorong oleh saham-saham AI dan harga minyak yang stabil. Namun, alih-alih ikut melesat, Bitcoin justru tertinggal, menunjukkan bahwa ada faktor internal pasar kripto yang menahan laju harga. Keterkaitan antara Bitcoin dan S&P 500 juga meningkat, dengan koefisien korelasi mencapai 0,51 per 2 Oktober, level tertinggi sejak awal Juni, tetapi korelasi ini tampaknya lebih banyak mentransmisikan stabilitas daripada momentum bullish bagi BTC.
Tekanan jual juga diperparah oleh melemahnya aliran dana masuk ke ETF Bitcoin spot. Setelah pada akhir September sempat mencatat inflow harian hingga ratusan juta dolar. Pada 5 Oktober ETF Bitcoin justru mencatat net outflow sekitar USD89,8 juta, dan pada 6 Oktober awal masih tercatat outflow tipis sekitar USD3,2 juta, meskipun data dari BlackRock IBIT belum lengkap saat itu. Ini menjadi sinyal bahwa permintaan institusional yang sebelumnya menjadi penopang utama reli Bitcoin kini mulai mengendur, tepat ketika pasar membutuhkan tenaga ekstra untuk menembus level USD87.000.

