Dari Kopi Tubruk hingga Single Origin: Evolusi Selera Kopi Nusantara

Ngopi bareng teman di cafe. (Unsplash.com)

ASIAWORLDVIEW – Masyarakat Indonesia menyukai kopi karena minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan bagian dari budaya, identitas regional, dan sarana sosial yang mengikat komunitas. Kopi hadir dalam kehidupan sehari-hari sebagai ritual, simbol kebersamaan, sekaligus kebanggaan atas warisan agrikultur nusantara.

Kopi bukan lagi sekadar minuman, melainkan ritual, teman kerja hingga alasan untuk bertemu. Terkadang menjadi penanda identitas gaya hidup.

Survei Jakpat yang melibatkan 1.238 responden pada April 2026 menegaskan bahwa kopi adalah jenis minuman yang paling banyak dikonsumsi—72% responden mengaku menikmatinya dalam enam bulan terakhir. Sementara, bagi 58% di antaranya, kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas harian, diminum setidaknya satu kali setiap hari.

Baca Juga: Efek Kopi terhadap Gula Darah: Risiko dan Faktor yang Perlu Diperhatikan

Angka ini menunjukkan bahwa kopi telah bergeser dari sekadar konsumsi menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan: ada yang memulainya sebagai pemicu energi di pagi hari, ada yang menjadikannya jeda di tengah pekerjaan, dan ada pula yang memakainya sebagai bahasa sosial untuk membuka percakapan.

Kopi juga menjadi penanda selera: dari kopi tubruk yang sederhana, kopi susu gula aren yang manis dan akrab, hingga single origin yang diseduh dengan metode pour over di kedai-kedai kecil yang estetik. Namun, menariknya, menikmati pengalaman minum kopi ala cafe belum tentu menjadi bagian dari keseharian semua orang.

Bagi sebagian besar masyarakat, kopi tetap dinikmati di rumah, di warung, di kantor, atau dalam perjalanan—bukan selalu di ruang ber-AC dengan latte art dan playlist lo-fi.

One thought on “Dari Kopi Tubruk hingga Single Origin: Evolusi Selera Kopi Nusantara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *