ASIAWORLDVIEW – Indonesia memiliki warisan panjang dalam produksi kakao dan pernah menduduki posisi sebagai salah satu produsen terbesar di dunia. Namun, sektor ini menghadapi berbagai tantangan serius yang menghambat pertumbuhan dan daya saingnya. Salah satu masalah utama adalah penurunan produktivitas, yang disebabkan oleh usia tanaman yang tua, serangan hama seperti penggerek buah kakao (PBK), dan penyakit busuk buah yang merusak hasil panen.
Merrijantij Punguan Pintaria selaku Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Kementerian Perindustrian mewakili Ir. Putu Juli Ardika, MA. selaku Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian mendukung langkah inisiatif yang dilakukan oleh Mondelez Indonesia melalui program Cocoa Life. Menurutnya, menambah lingkup komoditas Kakao, Kelapa Sawit dan Kelapa.
“Dukungan dari Mondelez international melalui program Cocoa Life ini tentunya bisa mengoptimalkan peluang yang dimiliki oleh Indonesia dalam memajukan sektor kakao, yang juga merupakan salah satu subsektor industri makanan dan minuman (mamin) di Indonesia. Dari sisi pemerintah, Kemenperin juga menginisiasi pembentukan Badan Pengelola Kakao yang diakomodir Pemerintah dengan menambahkan lingkup komoditas di Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, sehingga nomenklaturnya berubah menjadi BPDP dengan menambah lingkup komoditas Kakao, Kelapa Sawit dan Kelapa,” kata Merrijantij, dalam keterangannya, Sabtu (13/9/2025).
Baca Juga: Aroma Cokelat Membuat Otak Lebih Rileks, Suasana Lebih Tenang
“Kemenperin juga mengusulkan agar sebagian dari dana bea keluar yang dihasilkan dari ekspor biji kakao, dapat dimanfaatkan kembali untuk pengembangan hulu-hilir kakao,” ia menambahkan.
Cocoa Life bersama para mitra terus berupaya untuk menjadikan pertanian kakao sebagai bisnis yang berkelanjutan, menciptakan masyarakat yang berdaya, serta melestarikan dan memulihkan hutan sebagai habitat kakao. Hingga akhir 2024, program Cocoa life di Indonesia telah berhasil memperoleh berbagai pencapaian sukses, mulai dari memberdayakan 32.500 petani penerima manfaat di 310 desa, menghadirkan 120 rumah pembibitan (nursery kakao) dengan mendistribusikan lebih dari 7 juta bibit kakao berkualitas tinggi dan lebih dari 635 ribu bibit non kakao (multi purpose tree) sebagai pohon penaung kakao yang bisa menambah nilai ekonomis bagi petani.
Selain itu, program Cocoa Life juga telah berhasil melakukan pemetaan dan pemantauan di lebih dari 31.500 perkebunan kakao di area program Cocoa life yang meliputi provinsi Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Sebagian besar kebun kakao dikelola oleh petani kecil dengan keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan pelatihan, sehingga pemeliharaan tanaman sering kali tidak optimal. Selain itu, minimnya proses fermentasi menyebabkan kualitas biji kakao Indonesia kalah bersaing di pasar internasional. Tantangan lain termasuk fluktuasi harga global, kurangnya regenerasi petani, dan alih fungsi lahan ke komoditas lain yang lebih menguntungkan.
Meski demikian, peluang besar tetap terbuka melalui hilirisasi industri, penguatan kemitraan multipihak, dan pengembangan produk cokelat lokal yang dapat meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani. Dengan strategi terpadu dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi merebut kembali posisinya sebagai pemain utama dalam industri kakao global.
