Bitcoin Bertahan di USD83.500 di Tengah Momentum yang Melemah

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan pergerakan konsolidasi yang rapuh di sekitar level USD83.000 hingga USD83.500 pada Rabu (30/9/2026). Sebelumnya sempat menyentuh titik terendah intraday di USD82.776 pada awal pekan. Data dari berbagai platform menunjukkan pergerakan yang bervariasi sepanjang hari: MetroTVNews mencatat BTC diperdagangkan pada USD83.453,8, naik tipis 0,3 persen dalam 24 jam.

Sementara Prachachat melaporkan BTC berada di USD83.392,96, menguat 0,12 persen. Data menunjukkan BTC di USD83.610, naik 0,08 persen. Sedangkan Blocktempo mencatat BTC bertahan di $83.412** dengan kenaikan 0,33 persen. Secara mingguan, BTC tercatat turun sekitar 3,4 persen setelah mencapai puncak USD87.400 pada 21 September—level tertinggi dalam delapan bulan .

Faktor dominan yang menekan Bitcoin hari ini masih berasal dari pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menembus 5,61 persen—level tertinggi sejak 2002 atau sekitar 24 tahun terakhir—sementara tenor 10 tahun bertahan di atas 5,27 persen, tertinggi sejak 2007.

Kenaikan yield ini didorong oleh kekhawatiran inflasi jangka panjang, belanja pemerintah, dan meningkatnya kebutuhan pendanaan perusahaan untuk investasi Artificial INtelligence atau AI. Indeks dolar AS (DXY) juga menguat ke posisi 101,50, naik sekitar 2,7 persen dari level 98,78 pada 9 September . Dalam konteks ini, Bitcoin—sebagai aset tanpa imbal hasil—menghadapi biaya peluang (opportunity cost) yang meningkat, karena investor dapat memperoleh imbal hasil menarik dari obligasi pemerintah yang jauh lebih rendah risiko.

Baca Juga: Bitcoin Gagal Bertahan di Atas USD85.000, Pasar Derivatif Bergetar

Sentimen geopolitik turut memperberat momentum Bitcoin. Harga minyak mentah Brent masih bertahan di sekitar $103 per barel, meskipun sempat turun setelah Arab Saudi memulihkan sebagian kapasitas pipa Timur-Barat yang terdampak serangan drone, dan Amerika Serikat memerintahkan pelepasan tambahan dari cadangan minyak strategis.

Namun, kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global masih membayangi, terutama setelah Selat Hormuz mengalami penurunan volume logistik hingga setengahnya. Ketegangan AS-Iran yang belum mereda juga menambah ketidakpastian, dengan pasar mencermati apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober jika harga minyak terus tinggi .

Di sisi positif, arus masuk ke ETF Bitcoin spot AS masih mencatatkan net inflow untuk hari kedelapan berturut-turut, dengan USD33,2 juta masuk pada 29 September, didominasi oleh ARKB. Secara mingguan, ETF Bitcoin spot AS menyerap USD2,39 miliar, terbesar sejak puncak Oktober 2025—dengan puncak inflow harian USD998,95 juta pada 21 September, terbesar dalam sebelas bulan.
Tekanan jual dari long-term holders dan profit-taking

Analisis on-chain menunjukkan bahwa tekanan jual dari pemegang jangka panjang menjadi faktor krusial yang menahan kenaikan Bitcoin. Glassnode melaporkan bahwa USD84.000–USD85.000 adalah zona dengan konsentrasi kepemilikan long-term holders tertinggi di seluruh chart—lebih tinggi dari level harga mana pun lainnya. Artinya, setiap kali BTC mendekati USD85.000, muncul gelombang jual dari pemegang yang telah lama menahan aset mereka.

Selain itu, CryptoQuant mencatat bahwa tingkat keuntungan on-chain trader jangka pendek mencapai 33 persen—tertinggi sejak Desember 2024—yang secara historis cenderung memicu aksi ambil untung. Pada 22 September, pemegang Bitcoin merealisasikan keuntungan 25.700 BTC dalam sehari, rekor tertinggi sepanjang 2026.

Koreksi dan konsolidasi ini memicu gelombang likuidasi di pasar derivatif. Data dari CoinGlass menunjukkan total likuidasi mencapai USD272–USD273 juta dalam 24 jam terakhir, dengan posisi long menyumbang sekitar USD176 juta—sekitar 64,6 persen dari total. Open interest Bitcoin futures turun ke level terendah tahun ini di sekitar 628.000 BTC, turun dari 763.000 BTC pada awal Agustus, menandakan bahwa leverage dan spekulasi telah berkurang signifikan. Penurunan open interest ini bisa dilihat sebagai pembersihan posisi spekulatif yang sehat, tetapi juga mencerminkan berkurangnya minat trader untuk mengambil posisi baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *