Siemens Healthineers Hadirkan MRI Bebas Helium, Jawab Tantangan Diagnostik Nasional

dr. Yonathan William, Sp.Rad menyoroti kerentanan sistem MRI di Indonesia yang masih dalam acara Siemens Healthineers mengumumkan peluncuran MAGNETOM Flow, Jumat (22/8/2025).

ASIAWORLDVIEW – Magnetic Resonance Imaging (MRI) memainkan peran penting dalam kedokteran personalisasi dengan menyediakan gambaran detail dan akurat tentang struktur serta fungsi organ tubuh tanpa menggunakan radiasi ionisasi. MRI memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi karakteristik spesifik dari penyakit pada tiap individu, seperti lokasi, ukuran, dan jenis jaringan yang terdampak, sehingga rencana perawatan dapat disesuaikan secara lebih tepat.

Teknologi ini sangat berguna dalam deteksi dini kanker, gangguan neurologis, dan penyakit jantung, karena mampu menangkap perubahan mikroskopis pada jaringan sebelum gejala muncul. Dengan dukungan kecerdasan buatan, analisis citra MRI kini semakin canggih, memungkinkan pemetaan biomarker dan prediksi respons terapi secara individual. Hasilnya, pasien mendapatkan diagnosis yang lebih akurat dan terapi yang lebih efektif sesuai dengan profil biologis mereka.

Namun MRI di Indonesia masih sangat bergantung pada helium cair sebagai komponen utama dalam sistem pendinginan magnet superkonduktor. Helium digunakan untuk menjaga suhu magnet tetap mendekati nol mutlak (sekitar -269°C), sehingga memungkinkan pencitraan medis yang presisi dan stabil.

“Ketergantungan ini menimbulkan tantangan tersendiri, mengingat helium merupakan sumber daya langka dan mahal, serta memiliki rantai pasokan global yang rentan terhadap gangguan,” sebut dr. Yonathan William, Sp.Rad menyoroti kerentanan sistem MRI di Indonesia yang masih dalam acara Siemens Healthineers mengumumkan peluncuran MAGNETOM Flow, Jumat (22/8/2025).

Baca Juga: Telehealth, Ubah Layanan Kesehatan Masyarakat Pasca-Pandemi COVID-19

Siemens Healthineers meluncurkan layanan teknologi kesehatan MAGNETOM Flow
Siemens Healthineers meluncurkan layanan teknologi kesehatan MAGNETOM Flow

Selain itu, proses quench—yaitu pelepasan helium secara tiba-tiba akibat gangguan sistem—dapat menimbulkan risiko keselamatan dan kerugian operasional. Beberapa rumah sakit di Indonesia mulai mempertimbangkan teknologi MRI bebas helium yang menawarkan solusi lebih ramah lingkungan dan efisien.

“Peralihan ke teknologi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan keberlanjutan layanan kesehatan dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya eksternal, khususnya juga mulai menggunakan teknologi Artificial Intelligence,” ia menambahkan.

dr. Yonathan juga menyoroti ketimpangan fasilitas MRI di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam pemerataan layanan kesehatan. Menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 70% fasilitas kesehatan tingkat pertama belum memiliki alat pencitraan yang memadai, termasuk MRI.

“Sebagian besar alat MRI terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, sementara daerah terpencil, terutama di luar Pulau Jawa, masih minim akses terhadap teknologi pencitraan medis ini. Apalagi di wilayah Kalimantan,” ia menambahkan.

Hal ini diperparah oleh tingginya biaya investasi dan pemeliharaan alat MRI, serta kekurangan tenaga radiologi terlatih yang mampu mengoperasikan dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan. Akibatnya, masyarakat di daerah pelosok harus menempuh jarak jauh atau menunggu lama untuk mendapatkan diagnosis yang akurat.

“Ketimpangan ini berpotensi memperbesar kesenjangan dalam deteksi dini penyakit dan pengobatan yang tepat waktu, sehingga perlu ada strategi nasional untuk memperluas akses, seperti pengadaan alat secara bertahap, pelatihan tenaga medis, dan pemanfaatan telemedisin untuk menjangkau wilayah yang belum terlayani,” pungkasnya.

Siemens Healthineers meluncurkan layanan teknologi kesehatan MAGNETOM Flow. Platform di Indonesia, sebuah terobosan terbaru dalam teknologi Magnetic Resonance Imaging (MRI). Dirancang
untuk membuka akses yang lebih luas, menghadirkan penggunaan berkelanjutan, serta meningkatkan kinerja, platform ini menandai tonggak penting dalam menghadirkan
transformasi MRI bagi penyedia layanan kesehatan maupun pasien di seluruh Indonesia.

Platform menghadirkan keunggulan yang paling dibutuhkan, yaitu desain bebas helium pada 1.5T dengan teknologi DryCool, yang meminimalisir penggunaan helium hingga hanya 0,7 liter, serta tidak perlu dilakukan pengisian ulang maupun quench pipe (pipa yang dipasang pada sistem MRI untuk membuang gas helium cair mendidih secara mendadak). Inovasi ini tidak hanya menjawab isu keberlanjutan yang krusial, tetapi juga memberdayakan rumah sakit dan pusat pencitraan untuk menghadirkan layanan diagnostik yang andal dan berkualitas tinggi secara lebih luas.