Pemeriksaan Gigi Rutin Jadi Kunci Kesehatan Anak

ASIAWOLDVIEW – Di sebuah ruang kelas di SDN Menteng 01, Jakarta, sekelompok anak tampak antusias mengikuti pemeriksaan gigi. Ada yang membuka mulut lebar-lebar, ada yang meringis karena geli, dan ada pula yang justru penasaran melihat alat-alat kedokteran gigi yang berbaris rapi di atas meja. Suasana itulah yang menjadi latar pembukaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026, sebuah program yang telah berjalan sejak 2010 dan kembali digelar oleh Unilever Indonesia melalui Pepsodent bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, serta Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia.

Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, hadir dalam acara peresmian tersebut dan membawa dua kabar yang layak direnungkan. Kabar baiknya, pemeriksaan gigi kini telah masuk ke dalam program Cek Kesehatan Gratis dan wajib diikuti oleh semua anak sekolah. Kabar kurang baiknya, dari hasil pemeriksaan yang sudah berjalan, 4 dari 10 anak Indonesia yang ada di sekolah mengalami gigi berlubang. Angka itu bukan sekadar statistik; ia berbicara tentang anak-anak yang mungkin kesulitan makan, sulit berkonsentrasi di kelas, atau bahkan menahan sakit tanpa bisa mengungkapkannya.

BKGN mengangkat paradigma yang mungkin terdengar baru bagi banyak orang: pentingnya menjaga keseimbangan microbiome mulut. Bukan sekadar soal sikat gigi dua kali sehari atau menghindari permen, melainkan tentang bagaimana ekosistem mikroorganisme di dalam mulut bekerja sama menjaga kesehatan secara menyeluruh. Program ini akan berlangsung selama Oktober hingga Desember 2026 di berbagai fakultas kedokteran gigi dan rumah sakit gigi dan mulut pendidikan di seluruh Indonesia, menyasar masyarakat dari berbagai lapisan usia.

“Waktu terbaik untuk memeriksakan gigi bukanlah ketika sudah terasa sakit, melainkan secara rutin setiap enam bulan. Ia juga mengusulkan agar anak-anak yang bertugas di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) bisa menjadi semacam “detektif gigi berlubang”—membantu mengenali tanda-tanda awal masalah gigi pada teman-teman mereka,” ia menjelaskan.

Baca Juga: Pakar: Jaga Kesehatan Gigi Lebih dari Sekadar Bersih, Ini Investasi Masa Depan

Menariknya, ia mengingatkan bahwa masalah gigi bukan hanya persoalan mulut semata. Ada kaitan antara gigi berlubang dan penyakit pada katup jantung yang disebabkan oleh kuman Streptococcus beta-hemolyticus grup A. Ini adalah pengingat bahwa kesehatan mulut adalah pintu masuk bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Personal Care Community Lead Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa semangat HKGN 2026 sejalan dengan misi BKGN yang telah berjalan selama 17 kali penyelenggaraan. Setiap tahunnya, program ini memberikan akses edukasi, pemeriksaan, dan perawatan gigi gratis secara berkelanjutan.

“Hal yang membuat BKGN 2026 berbeda adalah fokusnya pada keseimbangan microbiome mulut sebagai awal dari kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh. Paradigma ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat dan masih banyaknya mispersepsi tentang apa itu gigi dan mulut yang sehat,” ia mengatakan.

Data yang dipaparkan cukup membuka mata: 47,5% masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari, dan meskipun 95,6% menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2% yang melakukannya di waktu yang tepat. Lebih mengkhawatirkan lagi, saat mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2% masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun. Akibatnya, 57% penduduk Indonesia usia 3 tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.

“Angka-angka ini bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengajak kita melihat bahwa kesehatan gigi sering kali diabaikan karena dianggap remeh—padahal dampaknya bisa panjang,” ia menambahkan.

Dalam suasana yang hangat dan tidak menggurui, acara ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan gigi bukanlah proyek sekali jadi. Ia adalah kebiasaan yang dibangun perlahan, dimulai dari hal-hal kecil seperti menyikat gigi di waktu yang benar, mengurangi konsumsi minuman manis, dan yang terpenting, tidak menunda untuk memeriksakan diri. BKGN 2026 hadir bukan untuk menjual produk atau mengklaim solusi instan, melainkan untuk membuka ruang dialog dan akses. Ia hadir di sekolah-sekolah, di fakultas kedokteran gigi, dan di rumah sakit pendidikan—tempat-tempat di mana masyarakat bisa datang tanpa rasa takut atau malu. Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh godaan rasa manis, pesan sederhana dari acara ini mungkin justru yang paling sulit dilakukan: luangkan waktu untuk merawat mulut Anda, karena dari sana kesehatan yang lebih besar dimulai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *