ASIAWORLDVIEW – Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menghadiri Acara Budaya Pembukaan Laut Provinsi Fujian 2025 yang diselenggarakan di Pulau Dongshan, Provinsi Fujian, China. Diwakili oleh Safari Azis, Ketua ARLI, menyerahkan Plakat Nol Karbon kepada panitia acara. Kegiatan tersebut sebagai pengakuan atas komitmen mereka dalam menyelenggarakan festival berskala besar dengan penekanan kuat pada keberlanjutan lingkungan dan pengurangan karbon.
Salah satu sorotan utama acara ini adalah Pertukaran Budaya dan Pertemuan Investasi Perikanan Laut Provinsi Fujian. Kegiatan ini juga dilangsungkan untuk pemberian penghargaan The National Marine Awareness Education Base dan The Zero Carbon Conference Award. Penghargaan Zero Carbon Conference Award secara resmi diserahkan oleh Safari Azis atas nama ARLI kepada panitia penyelenggara.
“Penghargaan Konferensi Nol Karbon merupakan contoh nyata bagaimana acara berskala besar dapat diselenggarakan dengan keberlanjutan sebagai inti utamanya. Dengan mengukur jejak karbon dari semua aktivitas acara, termasuk peserta dan pengunjung, inisiatif ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi dan penyerapan karbon,” kata Safari Azis, Ketua ARLI, dikutip Asiaworldview.com, Senin (18/8/2025).
Baca Juga: Konsumsi dan Ekspor, Duet Harmonis Menuju Kemakmuran Ekonomi Indonesia

Acara Budaya Pembukaan Laut Provinsi Fujian 2025 merupakan inisiatif Pemerintah China bekerja sama dengan Biro Kelautan dan Perikanan Provinsi Fujian. Acara ini akan berlangsung hingga Desember 2025, menampilkan berbagai produk seafood lokal dan berbasis laut, termasuk seafood kering, seafood beku, seafood ekspor Dongshan, camilan seafood, dan produk pesisir kreatif lainnya.
ARLI bukan hanya asosiasi dagang, tapi juga agen perubahan yang mendorong transformasi industri laut Indonesia ke arah yang lebih hijau dan berdaya saing tinggi. Hal itu dilakukan dengan terlibat dalam forum internasional untuk mendorong perdagangan karbon dari rumput laut. Selain itu, menjalin kemitraan strategis dengan organisasi dan institusi global.
Partisipasi ARLI dalam kegiatan tersebut juga menyoroti peran strategis Indonesia, khususnya industri rumput laut. Apalagi sebagai mitra kunci China dalam pengembangan sektor maritim dan perikanan. Juga kerjasama jangka panjang antara kedua negara mencakup pengembangan hulu dan hilir industri rumput laut, memperkuat posisi rumput laut sebagai komoditas berkelanjutan dan bernilai tinggi.
Keterlibatan ARLI dalam acara ini memperkuat kerja sama Indonesia–China di sektor maritim. Selain itu, juga menegaskan peran krusial industri rumput laut dalam mendukung ekonomi biru, transisi energi, dan pencapaian target global emisi nol bersih di masa depan.
