UNIQLO Hijab Sempat Ditolak di Jepang: Ketika Fashion Global Berbenturan dengan Identitas

ASIAWORLDVIEW – Kontroversi yang menimpa UNIQLO di Jepang setelah perilisan koleksi hijab menjadi salah satu contoh paling menarik bagaimana dunia fashion tidak pernah benar-benar netral. Ini selalu bersinggungan dengan budaya, politik identitas, dan sentimen sosial.

Koleksi hijab ini sebenarnya diumumkan pada Agustus 2026 sebagai bagian dari strategi global UNIQLO untuk merangkul pasar Muslim, terutama di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Produknya ditampilkan lewat foto promosi di media sosial dengan gaya sederhana, modern, dan tetap mengusung estetika minimalis khas UNIQLO. Namun, apa yang di satu wilayah menjadi langkah inklusif, di wilayah lain justru dibaca sebagai ancaman.

Di Jepang, koleksi ini memicu reaksi keras dari sebagian konsumen yang menilai hijab sebagai simbol budaya asing yang tidak relevan dengan pasar domestik. Mereka merasa UNIQLO terlalu mengutamakan pasar luar negeri dan melupakan akar budayanya sendiri. Komentar di media sosial pun meluas, menyebut UNIQLO sebagai “perusahaan anti-Jepang” dan menyerukan boikot.

Media sosial pun sempat ramai dengan aksi warga dan netizen Jepang. Meskipun UNIQLO menegaskan bahwa koleksi hijab ditujukan untuk pasar Asia Tenggara dan bukan distribusi penuh di Jepang, sentimen publik sudah terbentuk. Banyak konsumen Jepang merasa tidak nyaman melihat hijab dijual di toko domestik.

Baca Juga: Peluncuran Koleksi Hijab Terbaru, Perkuat Segmen Modest Fashion

Bagi mereka, hijab bukan sekadar item fashion, melainkan penanda religius dan kultural yang berasal dari luar tradisi Jepang. Dalam masyarakat yang secara historis homogen dan sangat menjaga batas antara “kami” dan “mereka”, kehadiran simbol asing di rak toko sehari-hari bisa memicu rasa terancam.

UNIQLO, yang selama ini identik dengan pakaian dasar Jepang—kaus polos, celana chino, jaket ringan—tiba-tiba dianggap keluar dari jalur. Padahal, dari kacamata industri, masuknya UNIQLO ke segmen modest fashion adalah keputusan bisnis yang logis: pasar Muslim global terus tumbuh, dan hijab telah lama menjadi bagian dari industri fashion yang dinamis, bukan sekadar simbol keagamaan.

Mereka melihat UNIQLO sebagai simbol globalisasi yang menguntungkan investor dan pasar asing. Namun meninggalkan konsumen Jepang yang merasa ditinggalkan. Inilah yang membuat isu hijab begitu mudah membakar emosi: ia bukan hanya tentang kain dan desain, tetapi tentang rasa memiliki, identitas, dan arah masa depan bangsa.

Dampaknya pun beragam. Seruan boikot muncul di media sosial, meskipun belum tentu berdampak signifikan pada penjualan UNIQLO secara keseluruhan. Namun, dalam industri fashion, boikot bukan hanya soal angka; ia soal citra. Ketika konsumen merasa sebuah brand mengkhianati identitas mereka, kepercayaan bisa runtuh dalam waktu singkat. UNIQLO berusaha meredam dengan menjelaskan bahwa koleksi hijab adalah bagian dari strategi global dan tidak dipasarkan secara masif di Jepang. Namun, klarifikasi sering kali kalah cepat dari narasi emosional.

Di sisi lain, langkah ini justru memperkuat citra UNIQLO di mata pasar internasional sebagai brand inklusif, modern, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan konsumen Muslim. Di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, koleksi hijab UNIQLO bisa dibaca sebagai pengakuan terhadap pasar yang selama ini dianggap pinggiran. Inilah paradoks globalisasi: apa yang dianggap progresif di satu tempat bisa dianggap pengkhianatan di tempat lain.

Jika dibandingkan dengan brand lain, kontroversi ini memang unik. Nike dan Dolce & Gabbana sebelumnya juga pernah meluncurkan koleksi hijab atau busana modest, tetapi tidak memicu reaksi sebesar yang dialami UNIQLO di Jepang. Mengapa? Karena UNIQLO adalah brand Jepang yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan label mewah yang dipandang “jauh” dari identitas nasional, melainkan bagian dari rutinitas masyarakat Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *