IHSG Jatuh di Bawah 6.500, Sentimen Global Tekan Pasar

IHSG menguat atau berada di zona hijau.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali dibuka melemah pada Senin (14/9/2026). Kondisi ini langsung mengalami tekanan jual yang cukup dalam pada awal sesi. Indeks dibuka turun 7,51 poin atau 0,11 persen ke level 6.533,87 dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di level 6.541,38.

Tekanan jual dengan cepat meningkat. Belum genap 20 menit perdagangan, IHSG sudah merosot lebih dari 1 persen ke bawah level 6.500. Tepat pukul 09.17 WIB, indeks tercatat berada di level 6.475,25, turun 66,13 poin atau 1,01 persen. Sepanjang awal perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.475,13 hingga 6.543,28, dengan titik terendah harian disentuh hanya beberapa menit setelah pembukaan. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung selama empat hari perdagangan berturut-turut, mencerminkan dominasi sentimen negatif di pasar saham domestik.

Faktor utama yang menekan IHSG hari ini adalah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Data inflasi konsumen AS untuk Agustus 2026 yang dirilis setelah pasar Indonesia ditutup pada Jumat pekan lalu menunjukkan inflasi inti naik 0,3 persen secara bulanan, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,2 persen. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan 15-16 September 2026. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga menuju kisaran 3,75–4,00 persen telah mencapai 87,3 persen. Kenaikan suku bunga AS berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah dan aset berisiko di negara berkembang, termasuk saham Indonesia.

Sentimen negatif dari luar negeri semakin diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mengancam pasokan energi dunia. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan gangguan pelayaran di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak.

Kerusakan pipa minyak Arab Saudi yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz turut memperbesar risiko gangguan pasokan. Harga minyak mentah Brent memang turun hampir tiga persen, namun tetap berada di atas USD104 per barel. Lonjakan harga energi ini dapat meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter, yang pada akhirnya membebani prospek pertumbuhan ekonomi dan pasar saham.

Baca Juga: Ketua Umum STARFINDO: Lonjakan Ekspor Kopi Indonesia Bukti Daya Saing Global Meningkat

Di sisi domestik, aksi jual bersih (net sell) investor asing menjadi salah satu pemberat utama IHSG. Pada perdagangan Jumat, 11 September 2026, investor asing mencatat net sell sebesar Rp733 miliar. Sejumlah saham yang paling banyak dijual investor asing antara lain BBCA, CUAN, CPIN, ADRO, dan BBNI. Aksi jual ini berlanjut pada awal pekan, menciptakan tekanan tambahan pada indeks.

Koreksi dalam pada saham-saham tambang berkapitalisasi besar juga menjadi pemicu pelemahan IHSG. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tercatat turun 6,48 persen ke level Rp11.550. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) melemah 5,25 persen ke level Rp2.890, sementara PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bahkan terkoreksi 12,86 persen ke level Rp7.625. Meskipun demikian, tidak semua saham bergerak negatif. Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham justru menguat, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang naik 1,93 persen menjadi Rp1.585, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menguat 1,65 persen ke Rp4.940, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang naik 1,05 persen ke Rp26.575, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang tumbuh 0,89 persen menjadi Rp2.270. Secara keseluruhan, pada awal perdagangan tercatat 221 saham menguat, 235 saham terkoreksi, dan 242 saham stagnan, dengan kapitalisasi pasar berada di posisi Rp11.442,75 triliun.

Meskipun IHSG dibuka melemah, beberapa analis melihat peluang rebound. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG berpotensi berbalik menguat seiring dengan penguatan bursa saham Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Indeks S&P 500 naik 0,86 persen, Nasdaq menguat 0,96 persen, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,98 persen. Penguatan Wall Street tersebut ditopang oleh turunnya harga minyak dan data harga konsumen yang solid. Fanny juga mencatat bahwa harga minyak mentah Brent turun hampir tiga persen, meskipun masih berada di atas US$104 per barel. Level support diperkirakan berada di kisaran 6.450–6.525 dan resistance di 6.600–6.640.

Namun, tantangan tetap besar. Selain ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, pasar juga menanti rilis data ekonomi domestik dan perkembangan global lainnya. Bursa utama Asia-Pasifik sendiri ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan lalu, dengan Kospi Korea Selatan anjlok 1,9 persen, Nikkei 225 Jepang merosot 1,8 persen, Hang Seng Hong Kong turun 0,6 persen, dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,9 persen. Pelemahan bursa Asia tersebut terjadi setelah pasar saham Amerika Serikat sebelumnya tertekan oleh lonjakan harga minyak.

Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada 14 September 2026 mencerminkan dominasi sentimen eksternal yang sangat kuat. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang hawkish, lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta aksi jual investor asing menjadi tiga faktor utama yang menekan indeks. Di tengah ketidakpastian ini, investor cenderung mengambil posisi wait and see, menunggu kejelasan dari pertemuan FOMC serta perkembangan harga minyak dan situasi geopolitik.

Meskipun ada peluang rebound teknikal, tekanan jual yang masih berlanjut dan sentimen global yang belum sepenuhnya mereda membuat prospek jangka pendek IHSG masih dibayangi volatilitas. Level support di 6.450–6.525 akan menjadi penentu apakah IHSG mampu menahan pelemahan lebih dalam, sementara resistance di 6.600–6.640 menjadi target yang harus ditembus untuk mengonfirmasi pemulihan yang signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *