ASIAWORLDVIEW – Dalam industri smartphone, siklus peluncuran model baru biasanya diikuti dengan penurunan harga perangkat generasi sebelumnya. Strategi itu sudah menjadi playbook standar: model lama didiskon agar stok cepat habis, konsumen diberi pilihan lebih murah, dan ruang di rak retail dibuat untuk perangkat terbaru.
Namun, Apple justru mengambil langkah yang berlawanan arah. Setelah mengumumkan iPhone 18 Pro series dan iPhone Duo—perangkat foldable pertamanya—Apple malah menaikkan harga sejumlah model iPhone yang masih dijual resmi.
Model yang terkena kenaikan adalah iPhone 17, iPhone 17e, iPhone Air, dan iPhone 16. Masing-masing mengalami kenaikan sekitar USD100 dari harga sebelumnya. Di Amerika Serikat, harga dasar iPhone 17 kini berada di posisi USD899, iPhone 17e menjadi USD699, iPhone Air menjadi USD1.099, dan iPhone 16 versi 128GB menjadi USD799.
Harga baru ini berlaku di semua wilayah yang masih menjual model-model tersebut. Keputusan ini menjadikannya salah satu langkah paling tidak biasa yang pernah dilakukan Apple dalam beberapa tahun terakhir, mengutip Gizmodo, Sabtu (12/9/2026).
Baca Juga: Apple Rilis iPhone 18 Pro, Kamera Variable Aperture Jadi Sorotan
Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Industri sedang menghadapi kelangkaan chip memori yang cukup serius, terutama DRAM dan NAND, yang permintaannya melonjak tajam akibat ekspansi pusat data Artificial Intelligence atau AI.
Pusat data AI membutuhkan memori berkapasitas besar, bandwidth tinggi, dan konsumsi daya efisien untuk melatih serta menjalankan model-model kecerdasan buatan berskala besar. Akibatnya, pasokan global untuk chip memori yang juga digunakan di smartphone, laptop, dan perangkat konsumen lain ikut tersedot. Apple bukan satu-satunya perusahaan yang terdampak, tetapi karena skala produksinya sangat besar, kenaikan biaya komponen langsung terasa di struktur harga.
Sebelumnya, Apple sudah menaikkan harga beberapa lini produk seperti Mac, iPad, dan HomePod karena alasan serupa. Jadi, kenaikan harga iPhone lama ini bukan kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari tekanan rantai pasok yang merembet ke seluruh portofolio produk konsumen.
Bagi konsumen, kenaikan harga resmi ini jelas memukul, terutama mereka yang sudah menunggu momen peluncuran model baru untuk membeli iPhone generasi sebelumnya dengan harga lebih murah. Harapan itu pupus karena harga resmi justru naik. Meski demikian, ada beberapa bantalan yang bisa meredam dampaknya.
Operator telekomunikasi biasanya menawarkan paket bundling, cashback, atau cicilan tanpa bunga. Program trade-in juga masih menjadi jalur populer untuk menekan harga beli. Namun, perlu dicatat bahwa kenaikan ini menyentuh harga resmi atau MSRP, bukan sekadar harga promo. Itu adalah sinyal kuat bahwa biaya komponen—khususnya memori—telah menjadi faktor struktural yang memengaruhi pricing strategy Apple. Jika kelangkaan chip memori berlanjut, bukan tidak mungkin harga perangkat kelas atas dari merek lain juga akan mengalami penyesuaian serupa, karena mereka menghadapi tekanan pasokan yang sama.
