Bunga Penutup Abad: Panggung Perayaan Seabad Pramoedya

Para pemain dan sutradara Teater Bunga Penutup Abad dalam keterangan pers di Jakarta.

ASIAWORLDVIEW – Teater Bunga Penutup Abad, produksi Titimangsa dan dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, kembali hadir menyapa para pecinta sastra dan panggung Indonesia sebagai bagian dari perayaan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Pementasan yang digelar pada 29 hingga 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta ini merupakan alih wahana dari dua karya awal Tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

“Pentas Bunga Penutup Abad ini kembali hadir karena kerinduan para penikmat teater dan penggemar Pramoedya Ananta Toer. Kisah Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies sangat berbekas di hati. Bagi kami, karya-karya Pram memiliki semangat dan nilai-nilai yang masih sangat relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Mengangkatnya kembali ke panggung adalah cara kami merayakan dan mengingatkan kita semua untuk semakin mencintai bangsa ini,” ujar Happy Salma sebagai Produser dalam pementasan ini.

Mengangkat kisah Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies, pertunjukan ini menghadirkan kembali semangat dan nilai-nilai perjuangan yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Dengan deretan aktor ternama seperti Happy Salma, Reza Rahadian, dan Chelsea Islan, serta arahan sutradara Wawan Sofwan, pementasan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan sastra Indonesia sekaligus jembatan bagi generasi muda untuk mengenal lebih dalam karya-karya Pramoedy.

Baca Juga: Dari Semar ke Malin Kundang: The Indonesian Broadway Melintasi Jejak Nusantara

Tahun 2025 menjadi momen istimewa karena menandai satu abad kelahiran Pramoedya, menjadikan pertunjukan ini bukan sekadar pementasan seni. Pementasan teater juga sebuah refleksi dan penghormatan atas kontribusinya yang mendalam terhadap sastra, sejarah, pemikiran, dan kebudayaan Indonesia.

Lebih dari itu, pementasan tahun ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Seabad Pram, sebuah program satu tahun penuh yang diprakarsai oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation, memperkuat makna dan relevansi karya Pram bagi generasi masa kini dan mendatang.

Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh khawatir mengenai keberadaan Annelies
sehingga mengutus pegawainya, yaitu Robert Jan Dapperste atau Panji Darman, untuk menemani ke mana pun Annelies pergi.

Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan
Surabaya terus dikabarkan melalui surat-surat oleh Panji Darman. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies. Minke selalu membacakan surat-surat itu kepada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka pintu-pintu nostalgia antara mereka bertiga, seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya, sampai Annelies terpaksa dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan
pengadilan putih Hindia Belanda.

Di penghujung cerita, Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. Meski dilanda kesedihan, Minke tetap pergi ke Batavia untuk melanjutkan sekolah menjadi
dokter. Dalam perjalanan, ia membawa serta lukisan karya sahabatnya, Jean Marais. Lukisan potret Annelies itu diberi nama oleh Minke sebagai ‘Bunga Penutup Abad’.