Luka Tertutup Belum Tentu Sembuh: Perawatan Lanjutan Wajib Diperhatikan

ASIAWORLDVIEW – Dalam dunia kesehatan, salah satu miskonsepsi yang masih sering terjadi di masyarakat adalah anggapan bahwa luka sudah sembuh total ketika permukaannya terlihat menutup atau keropeng mulai terbentuk. Padahal, luka sekecil apa pun tidak boleh dianggap remeh karena setiap luka membuka pintu bagi mikroorganisme untuk masuk ke dalam tubuh.

Menurut dr. Pipim Septiana Bayasari Yudho Purwono, Sp.DVE, dalam Hansaplast First Aid Conference 2026, Sabtu (12/9/2026), proses penyembuhan luka bukan peristiwa instan, melainkan perjalanan biologis yang berlangsung dalam beberapa fase—hemostasis, inflamasi, proliferasi, hingga remodeling. Setiap fase membutuhkan perlindungan yang tepat agar tidak terganggu. Ketika permukaan luka sudah tampak menutup.

“Sering kali di bawah kulit masih berlangsung proses regenerasi jaringan yang kompleks. Di sinilah banyak orang keliru, Akhirnya menghentikan perawatan terlalu cepat, padahal tubuh masih bekerja keras memperbaiki struktur kulit yang rusak,” ia menjelaskan dalam sesi talk show.

Fase hemostasis terjadi segera setelah luka, ketika pembuluh darah menyempit dan trombosit membentuk bekuan untuk menghentikan perdarahan. Setelah itu, fase inflamasi berlangsung sebagai respons alami tubuh untuk membersihkan area luka dari kotoran, bakteri, dan jaringan yang rusak. Kemudian masuk fase proliferasi, di mana sel-sel baru terbentuk untuk menutup luka dan membangun kembali jaringan.

Baca Juga: Edukasi Perawatan Luka, Risiko Infeksi Jika Dibiarkan

Terakhir, fase remodeling adalah tahap paling panjang, ketika jaringan kulit yang baru terus diperkuat dan disusun ulang agar mendekati struktur aslinya. Proses ini bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, tergantung pada ukuran, kedalaman, lokasi luka, serta kondisi kesehatan seseorang.

“Karena itu, melihat keropeng atau permukaan yang menutup bukan berarti luka sudah benar-benar pulih. Jika perlindungan dihentikan terlalu dini, bakteri dapat masuk kembali, infeksi bisa terjadi, rasa nyeri bertahan lebih lama, dan bekas luka menjadi lebih jelas,” ia menambahkan.

Dr. Pipim menekankan pentingnya langkah dasar perawatan luka yang sering disepelekan. Pertama, hentikan perdarahan dengan tekanan lembut menggunakan kain bersih atau kasa steril. Kedua, bersihkan luka menggunakan antiseptik yang sesuai—bukan alkohol atau bahan keras yang justru dapat merusak jaringan baru. Ketiga, tutup luka dengan plester atau perban steril agar terlindung dari kontaminasi. Langkah ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Luka yang dibiarkan terbuka, terkena air kotor, atau bergesekan dengan pakaian berisiko mengalami iritasi dan infeksi.

Sebaliknya, luka yang dilindungi dengan balutan steril memiliki lingkungan lembap yang optimal untuk regenerasi sel, sehingga penyembuhan berjalan lebih cepat dan risiko jaringan parut dapat ditekan.

“Luka yang ditangani dengan buruk bisa meninggalkan jaringan parut yang mengganggu estetika sekaligus berpotensi menimbulkan masalah kulit di kemudian hari. Sebaliknya, perawatan yang konsisten membantu kulit pulih lebih baik, menjaga kualitas hidup, dan meningkatkan rasa percaya diri. Edukasi yang berkelanjutan akan membuat masyarakat lebih sadar bahwa setiap luka layak mendapatkan perhatian serius,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *