ASIAWORLDVIEW – Kualitas udara yang buruk dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan paru-paru. Paparan jangka panjang terhadap polusi udara, terutama partikel halus (PM2.5) dan zat kimia berbahaya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan peradangan kronis pada saluran pernapasan. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit seperti asma, bronkitis, hingga kanker paru. Mekanismenya terjadi karena partikel polutan mampu menembus alveolus, masuk ke aliran darah, dan memicu kerusakan sel serta mutasi genetik.
“Kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan paru, termasuk kanker paru, sehingga masyarakat perlu mengurangi paparan polusi. Kanker paru hampir 85 persen penyebabnya karena merokok, dan 15 persen penyebabnya bisa karena non-smoker. Jadi kalau kita perokok pasif, itu kemungkinan kanker parunya meningkat 20 sampai 30 persen,” kata dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi dr. Linda Masniari, SpP(K).
Rokok memang tetap menjadi faktor risiko utama kanker paru, tetapi orang yang tidak merokok pun tidak sepenuhnya aman dari ancaman penyakit ini. Paparan lingkungan sehari-hari dapat meningkatkan risiko secara signifikan. Misalnya, asap kendaraan bermotor yang mengandung partikel halus dan zat kimia berbahaya mampu menembus saluran pernapasan dan memicu kerusakan sel. Begitu pula dengan asap pembakaran kayu bakar yang masih digunakan di sebagian wilayah untuk memasak, menghasilkan senyawa karsinogenik yang berbahaya bila terhirup dalam jangka panjang.
Baca Juga: Kabut Asap Lintas Batas: Ketika Paru-Paru Ikut Jadi Korban Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan
Kondisi lingkungan tempat tinggal yang penuh polusi atau ventilasi rumah yang buruk juga memperbesar risiko karena memperpanjang durasi paparan terhadap polutan. Dengan demikian, meskipun tidak merokok, seseorang tetap perlu waspada terhadap faktor eksternal yang dapat memengaruhi kesehatan paru-paru, serta mengambil langkah pencegahan seperti mengurangi paparan polusi, menggunakan ventilasi yang baik, dan menjaga kebersihan udara di sekitar tempat tinggal.
“Lingkungan seperti tinggal dekat pembuangan sampah juga ada faktor risiko,” ia menambahkan.
Risiko kanker paru juga dapat meningkat pada orang yang bekerja di lingkungan dengan paparan tertentu. Misalnya, pekerja pertambangan, galangan kapal, dan pabrik semen sebagai kelompok yang perlu memperhatikan risiko dari lingkungan kerja.
“Selain faktor lingkungan, riwayat keluarga juga perlu diperhatikan. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker paru dapat memiliki risiko lebih tinggi karena faktor genetic,” jelasnya.
Linda mengatakan masyarakat perlu mengenali faktor risiko yang dimiliki dan mengurangi paparan polusi dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang tinggal di lingkungan dengan kualitas udara buruk untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan polusi.
“Jadi udara yang sehat itu penting sekali,” pungkasnya.
