Mendag Budi Santoso Optimis Surplus Perdagangan Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi

ASIAWORLDVIEW – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan optimisme bahwa neraca perdagangan Indonesia akan terus mencatat surplus setelah kembali ke zona positif pada Juli 2026. Keyakinan ini didasarkan pada tren ekspor yang tetap solid, terutama dari sektor manufaktur dan komoditas unggulan, serta meningkatnya permintaan global yang mendukung kinerja perdagangan. Surplus yang kembali tercatat menjadi sinyal bahwa daya saing produk Indonesia masih terjaga di tengah dinamika ekonomi internasional.

“Harapan kami adalah surplus ini akan terus berlanjut. Kami ingin surplus ini bertahan hingga akhir tahun,” kata Menteri Perdagangan Budi Santoso, Rabu (2/9/2026).

Selain itu, pemerintah menilai bahwa kebijakan diversifikasi pasar ekspor, penguatan industri dalam negeri, serta pengendalian impor bahan baku akan semakin memperkuat posisi neraca perdagangan di bulan-bulan mendatang. Optimisme ini juga mencerminkan harapan bahwa stabilitas perdagangan dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak global.

Baca Juga: Mendag Budi Santoso Dukung Program Akselerasi Produk Lokal, Jalan UMKM Naik Kelas

Dalam sambutannya di Jakarta pada Rabu, Budi menyoroti surplus perdagangan sebesar USD0,12 miliar yang dicapai pada Juli sebagai pemulihan penting setelah negara ini mengalami defisit bulanan berturut-turut pada Mei dan Juni.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekspor pada Juli mencapai USD26,22 miliar, naik 6,05 persen secara tahunan (yoy), sementara impor mencapai USD26,09 miliar, naik 27,02 persen yoy. Untuk periode Januari–Juli 2026, surplus perdagangan barang kumulatif Indonesia mencapai USD3,70 miliar. Total ekspor selama periode tujuh bulan tersebut naik 4,43 persen yoy menjadi USD167,03 miliar, naik dari USD159,95 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Ia mengaitkan tekanan pada neraca perdagangan pada bulan-bulan sebelumnya dengan volatilitas pasar energi, khususnya lonjakan tajam harga minyak mentah global selama Maret dan April, ketika harga minyak sempat menembus angka US$100 per barel.cTingginya permintaan energi domestik kemudian memperlebar defisit minyak dan gas Indonesia.

“Surplus non-minyak dan gas kami terus berlanjut. Kami memang mengalami defisit minyak dan gas, namun surplus non-minyak dan gas tetap kuat,” kata Budi.

Berdasarkan sektor, manufaktur mendominasi ekspor kumulatif dari Januari hingga Juli 2026, dengan kontribusi sebesar USD137,26 miliar. Sektor pertambangan dan sektor lainnya menghasilkan US$19,60 miliar, sedangkan pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang USD3,15 miliar.

Sementara itu, impor kumulatif mencapai USD163,33 miliar, naik 19,94 persen secara tahunan. Impor didominasi oleh bahan baku dan barang penunjang sebesar USD116,70 miliar, diikuti oleh barang modal sebesar USD32,46 miliar dan barang konsumsi sebesar USD14,16 miliar.

“Pemerintah akan terus secara agresif mendorong ekspor non-minyak dan gas untuk mempertahankan surplus perdagangan yang berkelanjutan, alih-alih hanya bergantung pada fluktuasi harga energi global,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *