ASIAWORLDVIEW – Bayangkan aroma rempah yang menggoda, uap panas yang mengepul dari panci besar, dan tawa ceria yang bercampur dengan percakapan dalam berbagai bahasa. Itulah suasana yang tercipta dalam Krida RASA (Ruang Bahasa dan Budaya Nusantara) , sebuah kegiatan unik yang diselenggarakan oleh Duta Bahasa DKI Jakarta. Di sini, bahasa dan budaya Indonesia tidak diajarkan dari balik meja kelas, melainkan melalui pengalaman langsung yang melibatkan seluruh indra—mengenal, meraba, mencium, dan mencicipi.
Dalam sesi yang hangat dan penuh makna ini, para peserta diajak untuk membuat dua ikon kuliner khas Betawi: soto Betawi dan bir pletok. Bukan sekadar memasak, kegiatan ini adalah perjalanan untuk mengenal kosakata baru, memahami instruksi, dan menyelami cerita serta nilai-nilai budaya yang melekat pada setiap hidangan.
Soto Betawi, dengan kuah santan gurih yang kaya akan rempah seperti ketumbar, jintan, dan jahe, serta potongan daging sapi, jeroan, dan kentang, adalah cerminan dari akulturasi budaya yang terjadi di Batavia. Pengaruh kuliner dari berbagai etnis—Melayu, Tionghoa, dan Arab—berpadu dalam semangkuk soto yang hangat. Sementara itu, bir pletok, minuman tradisional yang terbuat dari jahe, serai, kayu manis, dan rempah lainnya, memiliki sejarah sebagai minuman kesehatan dan simbol perlawanan budaya di masa kolonial.
Warnanya yang merah pekat dan rasanya yang pedas manis adalah representasi dari semangat dan keberanian masyarakat Betawi. Dengan menghadirkan kedua hidangan ini, Krida RASA tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga membawa peserta menyelami sejarah dan identitas Jakarta itu sendiri.
Baca Juga: Tips Pola Makan Sehat Ala Nabi Muhammad SAW: Teladan Holistik untuk Generasi Modern
Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia, Abdalfatah A.K. Al-Sattari, dan Wakil Duta Besar Kerajaan Thailand di Jakarta, Hathaichanok Riddhagni Frumau menambah dimensi penting pada acara ini. Bagi mereka, kegiatan seperti RASA adalah bentuk diplomasi budaya yang nyata.

“Makanan adalah bahasa universal yang dapat mempertemukan orang-orang dari berbagai negara. Melalui makanan, kita dapat mengenal sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang hidup dalam sebuah masyarakat,” ujar Duta Besar Al-Sattari.
Ia menekankan bahwa interaksi antarmasyarakat melalui pengalaman budaya sederhana seperti memasak bersama dapat membangun pemahaman tanpa harus bergantung pada forum formal. Ini adalah ruang di mana perbedaan budaya bukan menjadi penghalang, melainkan titik awal untuk menemukan kesamaan dan membangun rasa saling menghormati.
Pendekatan pembelajaran bahasa yang diterapkan dalam Krida RASA adalah contoh sempurna dari pendidikan kontekstual. Para peserta tidak hanya menghafal kosakata, tetapi langsung mempraktikkannya. Mereka belajar menyebutkan nama-nama bahan makanan dalam bahasa Indonesia, mengikuti instruksi memasak, bertanya tentang teknik, dan mendeskripsikan rasa.
Bahasa menjadi hidup, mengalir secara alami dalam setiap percakapan dan interaksi. Ini adalah pengalaman belajar yang imersif, di mana bahasa bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk terhubung, berkreasi, dan berbagi.
Sebagai pelengkap pengalaman ini, setiap peserta juga menerima buku pengayaan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) . Buku ini bukan sekadar materi pelajaran, tetapi sebuah panduan yang membuka pintu untuk eksplorasi lebih lanjut.
Di dalamnya, peserta tidak hanya menemukan latihan bahasa, tetapi juga rekomendasi tempat makan soto Betawi dan resep-resep masakan Indonesia lainnya. Dengan cara ini, buku tersebut menjembatani pengalaman praktis di dapur dengan kemungkinan untuk terus belajar dan bahkan membuka peluang ekonomi, seperti memulai usaha kuliner.
Nuel dan Dania, perwakilan Duta Bahasa DKI Jakarta di tingkat nasional, melihat kegiatan ini sebagai manifestasi dari semangat “Jakarta Mendunia”. Mereka ingin menunjukkan bahwa Jakarta adalah kota yang terbuka dan dinamis, tempat budaya dan bahasa dapat dikenalkan dengan cara yang dekat dan hangat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bahasa dapat dipelajari melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Nuel.
Melalui Krida RASA, mereka berhasil menciptakan sebuah ruang di mana soto Betawi dan bir pletok menjadi lebih dari sekadar makanan—mereka menjadi duta budaya, pembawa cerita, dan perekat hubungan antarbangsa. Kegiatan ini adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin terhubung, makanan tetap menjadi bahasa cinta yang paling universal, dan masakan Indonesia memiliki tempat istimewa di meja perjamuan dunia.
