ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan pergerakan yang menguat secara tipis, Jumat (28/8/2026), hingga moderat di tengah sentimen pasar yang beragam. Rupiah menjadi Rp17.689 per USD, menguat 55 poin atau 0,31%.
Penguatan rupiah pada hari ini didorong oleh beberapa faktor utama. Sentimen positif dari dalam negeri. Meredanya ketegangan setelah aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus 2026 yang berlangsung tertib dan damai.
Kondisi tersebut memberikan angin segar bagi pasar. Stabilitas politik dan keamanan yang kondusif kembali terjaga, sehingga mengurangi ketidakpastian bagi para pelaku pasar.
Baca Juga: Dukung IRSE 2026, Menko Airlangga Hartarto: Ritel Modern dan Shopping Tourism Motor Ekonomi Baru
Selain itu, pelaku pasar sedang dalam mode “wait and see” menjelang pidato Gubernur Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, dalam Simposium Jackson Hole. Pidato ini sangat krusial karena pasar menantikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan AS yang juga dirilis hari ini turut menjadi perhatian. Analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Sinyal dari The Fed yang bersifat hawkish (cenderung menaikkan suku bunga) berpotensi menahan penguatan rupiah, sementara sinyal dovish (cenderung melonggarkan) dapat membuka ruang penguatan lebih lanjut.
