ASIAWORLDVIEW – Perkembangan pembayaran digital memainkan peran strategis dalam mendukung transformasi perdagangan nasional. Hal itu karena mampu mempercepat arus transaksi, meningkatkan efisiensi, dan memperluas akses keuangan bagi masyarakat serta pelaku usaha.
“Pembayaran digital membantu pemerintah dan regulator dalam memantau pergerakan ekonomi secara real-time, sehingga kebijakan fiskal maupun moneter dapat lebih responsif terhadap dinamika pasar,” sebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026.
Dengan adopsi sistem pembayaran berbasis QRIS, e-wallet, dan mobile banking, proses jual beli menjadi lebih praktis, aman, dan transparan. Hal ini tidak hanya mendorong inklusi keuangan, tetapi juga memperkuat daya saing UMKM melalui integrasi ke ekosistem digital.
“Perkembangan pembayaran digital memainkan peran penting dalam mendukung transformasi perdagangan nasional. Digitalisasi pembayaran menjadi fondasi penting bagi terciptanya perdagangan yang modern, adaptif, dan berkelanjutan di era ekonomi digital,” ia menambahkan.
Baca Juga: Dukung IRSE 2026, Menko Airlangga Hartarto: Ritel Modern dan Shopping Tourism Motor Ekonomi Baru
Pernyataannya tersebut sejalan dengan data dari Bank Indonesia, yang menunjukkan bahwa Standar Indonesia untuk Kode Respons Cepat (QRIS) telah mencapai 65,77 juta pengguna pada Juni 2026, sehingga pembayaran menjadi lebih inklusif dan nyaman bagi pelaku usaha maupun konsumen.
“Kami melihat bahwa sistem pembayaran QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta pedagang, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” kata menteri tersebut pada hari Rabu.
Ia menambahkan bahwa memajukan digitalisasi sangat penting untuk membangun ekosistem perdagangan yang lebih efisien dan inklusif. Penguatan perdagangan domestik juga sejalan dengan peran konsumsi sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kami mendorong perdagangan yang lebih modern, komprehensif, struktural, dan adaptif,” kata Hartarto.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal kedua tahun 2026, yang berkontribusi sebesar 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di angka 116,8 pada Juli 2026, yang tetap berada di atas ambang batas optimis sebesar 100.
