ASIAWORLDVIEW – Penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan kondisi autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan. Penyakit ini mencakup dua tipe utama yaitu penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
Selain gejala gastrointestinal seperti nyeri perut dan diare, IBD juga dapat menimbulkan komplikasi sistemik yang serius, termasuk penggumpalan darah, peradangan pada kulit, mata, dan sendi, bahkan meningkatkan risiko kematian bila tidak ditangani secara tepat.
Penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup pasien, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Gejala kronis seperti nyeri perut, diare berdarah, kelelahan, dan penurunan berat badan sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari dan produktivitas kerja. Selain itu, kekambuhan yang tidak terduga dan pembatasan diet dapat menimbulkan stres, kecemasan, bahkan depresi.
Namun, dengan manajemen medis yang tepat, dukungan psikososial, dan edukasi yang memadai, banyak pasien IBD mampu menjalani hidup yang produktif dan memuaskan. Melihat urgensi dan kompleksitas penyakit ini, RS Abdi Waluyo mengambil langkah strategis dengan mendirikan IBD Center—pusat perawatan khusus yang pertama di Indonesia untuk menangani radang usus secara komprehensif.
“RS Abdi Waluyo berkomitmen terhadap kesehatan pasien dengan meningkatkan kesadaran pasien terkait penyakit radang usus (IBD) di Indonesia, menyediakan akses bagi pengobatan inovatif, serta bermitra dengan asosiasi medis untuk meningkatkan pengetahuan, diagnostik, dan tatalaksana. Hal ini menjadi dasar bagi kami membangun IBD Center, untuk meningkatkan perawatan dan hasil yang baik untuk pasien,” sebut dr. Sutrisno T. Subagyo, Sp.PD-JP, dikutip Asiaworldview.com, Senin (28/7/2025).
Baca Juga: Pilih Cereal dengan Serat Tinggi demi Kesehatan Pencernaan
Pasien IBD juga menghadapi tantangan sosial, seperti stigma karena gejala yang mirip dengan gangguan pencernaan biasa, serta kesulitan menjelaskan kondisi mereka kepada orang lain atau tenaga medis. Faktor demografis seperti usia muda, jenis kelamin perempuan, dan status pekerjaan juga terbukti memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.
Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi titik terang bagi para pasien, sekaligus mengangkat standar layanan kesehatan gastroenterologi di tanah air. Fasilitas ini menawarkan pendekatan multidisiplin yang mencakup gastroenterologi, bedah digestif, nutrisi klinis, dukungan psikososial, serta pemantauan penyakit secara berkelanjutan.
Langkah ini tidak hanya meningkatkan akses terhadap terapi inovatif, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap IBD, yang sering kali terabaikan karena gejalanya mirip diare biasa. Dengan dukungan para dokter spesialis dan kolaborasi internasional, RS Abdi Waluyo berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dan meningkatkan kualitas hidup pasien IBD di Indonesia
