ASIAWORLDVIEW – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia atau HIPPINDO tengah gencar mempromosikan shopping tourism. Ini menjadi konsep strategis yang menjadikan aktivitas belanja sebagai bagian integral dari pengalaman wisata.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor ini karena kekayaan budaya, kuliner, dan produk lokal yang unik. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dan domestik, belanja bukan lagi sekadar aktivitas tambahan, melainkan daya tarik utama yang dapat mendorong konsumsi dan investasi,” sebut Sekretaris Jenderal HIPPINDO, Haryanto Pratantara dalam pembukaan Indonesia Retail Summit & Expo 2026, Rabu (26/8/2026).
Pusat perbelanjaan modern dapat bertransformasi menjadi etalase budaya dengan menghadirkan festival kuliner khas daerah. Bahkan pameran batik dan tenun, hingga pertunjukan seni tradisional yang dikemas secara modern.
Bayangkan jika setiap wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia (7,45 juta orang pada semester I 2026) menghabiskan lebih banyak untuk produk lokal—dari batik tulis, tenun ikat, kerajinan perak, hingga produk kecantikan berbahan herbal Indonesia. Dampaknya terhadap ekonomi lokal akan luar biasa: UMKM berkembang, lapangan kerja tercipta, dan citra Indonesia di mata dunia semakin kuat.
Baca Juga: Transformasi Digital Jadi Fokus Utama Indonesia Retail Summit 2026
“Hal ini tidak hanya memperkuat identitas Indonesia di mata dunia, tetapi juga membuka akses pasar lebih luas bagi UMKM lokal,” ia menambahkan.
Selain itu, integrasi shopping tourism dengan ekosistem digital memperluas jangkauan promosi melalui media sosial dan e-commerce, sehingga wisatawan sudah terhubung dengan produk lokal bahkan sebelum tiba di Indonesia. Pemerintah bersama sektor swasta dapat menjadikan shopping tourism sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru dengan target kontribusi signifikan terhadap PDB, sekaligus memperkuat diplomasi ekonomi melalui promosi budaya.
Dengan memperkuat sektor ritel dan menghubungkannya dengan pariwisata, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat belanja Asia. Bayangkan berjalan di mal-mal modern yang juga menampilkan festival budaya, pasar tradisional yang dikemas dengan konsep kekinian, atau butik-butik lokal yang bersaing dengan merek internasional.
“Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi destinasi belanja dunia, di mana setiap transaksi bukan hanya soal komersial, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik dan bernilai,” jelasnya.
