ASIAWORLDVIEW – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 menimbulkan dampak besar. Lebih dari 50 korban jiwa, ratusan luka-luka, ribuan warga mengungsi, serta kerusakan parah pada rumah, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur publik. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk mempercepat penanganan.
Di berbagai tenda pengungsian di seluruh Flores, anak-anak bermain di bawah tenda terpal. Sementara para pekerja bantuan dan relawan memberikan dukungan psikososial serta bantuan pangan dan medis.
“Bagi banyak korban, terutama anak-anak, dampak psikologisnya masih terasa lama setelah gempa berhenti,” kata Kepala Kepolisian Daerah Yudhi Franata, yang menyelenggarakan sesi pemulihan trauma bagi anak-anak yang mengungsi akibat bencana di Kabupaten Ende.
Baca Juga: Kesadaran Kesehatan Masyarakat Indonesia Bergeser, Vitamin Kini Jadi Gaya Hidup Sehari-hari
Dampak kesehatan mental bagi korban gempa NTT sangat besar dan kompleks, karena bencana alam tidak hanya merusak fisik tetapi juga meninggalkan luka psikologis mendalam. Banyak penyintas mengalami trauma akut akibat guncangan hebat, kehilangan orang terdekat, serta hancurnya rumah dan lingkungan mereka.
Kondisi ini sering memicu gangguan kecemasan, insomnia, mimpi buruk, hingga gejala depresi. Anak-anak khususnya rentan mengalami ketakutan berlebihan, regresi perilaku (misalnya kembali mengompol), atau sulit berkonsentrasi di sekolah.
Selain itu, rasa kehilangan dan ketidakpastian masa depan membuat korban merasa putus asa, terutama ketika harus tinggal di pengungsian dengan fasilitas terbatas. Tekanan sosial juga muncul karena mereka harus beradaptasi dengan komunitas baru, berbagi ruang sempit, dan menghadapi keterbatasan privasi.
Pada orang dewasa, beban ekonomi akibat kehilangan pekerjaan atau sumber penghasilan memperparah stres psikologis. Tidak jarang muncul post-traumatic stress disorder (PTSD), ditandai dengan kilas balik kejadian gempa, rasa panik saat mendengar suara keras, atau menghindari tempat yang mengingatkan pada bencana.
Dampak mental ini bisa berlangsung lama jika tidak ditangani dengan baik. Selain bantuan logistik, korban gempa membutuhkan dukungan psikososial berupa konseling, terapi kelompok, dan pendampingan komunitas.
Kehadiran relawan, tenaga kesehatan mental, serta program pemulihan berbasis masyarakat sangat penting untuk membantu mereka membangun kembali rasa aman, harapan, dan kepercayaan diri. Dengan pendekatan holistik, pemulihan tidak hanya menyentuh aspek fisik tetapi juga kesehatan jiwa, sehingga korban dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih stabil.

