Bitcoin Rebound, Tembus USD64.000 di Tengah Ekspektasi The Fed

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) hari ini, Selasa (18/8/2026), menunjukkan pergerakan yang cukup positif dengan berhasil menembus level psikologis USD64.000. Berdasarkan data dari berbagai platform pemantau aset kripto, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran yang beragam, mencerminkan volatilitas yang umum terjadi.

Harga BTC naik 2,32% dalam 24 jam terakhir ke angka USD64.238,79 (setara dengan sekitar Rp 1,14 miliar dengan kurs Rp 17.827). Sumber lain seperti Tokocrypto mencatat harga di USD64.060,36 atau naik 1,10% dalam 24 jam, sementara KuCoin menunjukkan angka yang lebih tinggi di USD64.531,90 dengan kenaikan 2,59%.

Data CoinMarketCap dan TradingView yang menunjukkan kenaikan hingga 2,52% dengan harga sekitar USD64.378 pada pukul 06.30 waktu Vietnam.

Kenaikan harga Bitcoin pada hari ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan didorong oleh sejumlah faktor makroekonomi dan sentimen pasar. Salah satu pendorong utamanya adalah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan September, dengan probabilitas pasar yang naik hingga 69%.

Baca Juga: Bitcoin Masuki Fase Sinyal, Hadapi Ancaman Rantai Ganda

Perubahan sentimen ini dipicu oleh serangkaian data ekonomi AS yang melemah, termasuk penurunan penjualan ritel sebesar 0,6% serta inflasi (CPI dan PPI) yang mendingin. Kondisi ini menyebabkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turun, yang pada gilirannya mendorong investor untuk kembali melirik aset-aset berisiko seperti Bitcoin.

Selain faktor suku bunga, dinamika geopolitik juga turut mewarnai pergerakan BTC. Ketegangan yang melibatkan AS, Iran, dan Oman, terutama terkait ancaman militer Presiden AS Donald Trump terhadap Oman dan berakhirnya gencatan senjata AS-Iran, justru menjadi katalis bagi penguatan Bitcoin.

Di tengah ketidakpastian ini, pasar keuangan tradisional menunjukkan respons yang beragam: saham AS (indeks S&P 500) melemah sekitar 0,5% dari rekor tertingginya, sementara emas sebagai aset safe-haven menguat lebih dari 1% mendekati level $4.427 per ons. Bitcoin, yang sering disebut sebagai ’emas digital’, menunjukkan korelasi yang kuat (76%) dengan emas, mengindikasikan bahwa aset kripto ini mulai dipandang sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik.

Bitcoin kali ini didukung oleh volume perdagangan yang cukup besar, mencapai sekitar USD21,18 miliar dalam 24 jam. Kenaikan harga juga didorong oleh aksi short squeeze di pasar derivatif, di mana para trader yang sebelumnya mengambil posisi short (bertaruh harga turun) terpaksa membeli kembali BTC untuk menutup posisi mereka, sehingga mendorong harga semakin naik.

Data menunjukkan bahwa posisi long (taruhan harga naik) semakin mendominasi, dengan tingkat pendanaan (funding rate) Bitcoin mencapai level tertinggi dalam 20 bulan. Meskipun demikian, para analis mengingatkan bahwa posisi long yang terlalu padat dapat meningkatkan risiko likuidasi besar-besaran jika harga berbalik arah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *