ASIAWORLDVIEW – Memasuki era 5G, negara-negara di dunia telah menyiapkannya dengan matang. Pasar Asia Tenggara menunjukkan tingkat kematangan 5G yang bervariasi, dengan Malaysia memimpin dan Indonesia mendapat skor terendah, menandakan adanya potensi pertumbuhan yang signifikan
Laporan 2025 5G Success Index dari Kearney menyoroti bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan dengan pertumbuhan teknologi 5G yang sangat beragam. Beberapa negara telah menunjukkan kemajuan pesat, sementara lainnya masih menghadapi tantangan infrastruktur dan regulasi.
“Indonesia juga dapat melampau pasar lain dalam hal adopsi pelanggan. Harga perangkat kini jauh lebih rendah dibandingkan ketika negara-negara lain memulai perjalanan adopsi mereka. Konsumsi data per pelanggan di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan pasar yang sejenis; misalnya, GB/pelanggan di Indonesia saat ini 40% lebih rendah daripada di Thailand,” kata Varun Arora, Managing Partner Kearney untuk Asia Tenggara.
Asia Tenggara menjadi cerminan bagaimana adopsi teknologi tinggi bisa sangat bervariasi dalam satu kawasan. Indonesia punya peluang besar untuk mengejar ketertinggalan dan bahkan melampaui negara lain jika momentum ini dimanfaatkan secara strategis.
Baca Juga: Huawei Integrasi 5.5G dan Penerapan AI, Ubah Masa Depan Jaringan dan Layanan Digital
“Dengan dukungan 5G, konsumsi data per pelanggan bisa meningkat dari 13 Gb/pelanggan saat ini menjadi 42 Gb/pelanggan pada 2030, lebih dari tiga kali lipat,” ia menambahkan.
Di Malaysia, mencapai cakupan populasi lebih dari 80% dalam tiga tahun berkat jaringan grosir tunggal. Penetrasi 5G mendekati 55% dan sedang mengembangkan jaringan kedua untuk mendorong persaingan.
Sementara, operator utama Thailand telah meluncurkan tiga kelas spektrum dan memperkenalkan API jaringan tingkat lanjut, menjadikannya pusat inovasi regional.
Di Singapura, fokus pada infrastruktur Smart City dan penerapan low-band menjadikan negara ini pemimpin regional dalam adopsi 5G.
“Jika kita menggabungkan peningkatan adopsi yang lebih tinggi dengan ketersediaan spektrum berkualitas, Total Cost of Ownership (TCO) dari jaringan 5G mungkin lebih baik daripada jaringan 4G. Hal ini juga menjadi penting karena sebagian besar operator global menghadapi tantangan untuk mendapatkan imbal hasil yang baik dari investasi mereka dalam spektrum 5G,” pungkasnya.
