Liburan Panas di Eropa Jadi Tantangan Wisatawan

Wisatawan tengah berkunjung ke Roma, Italia, di tengah cuaca panas.

ASIAWORLDVIEW – Cuaca panas ekstrem yang melanda Eropa belakangan ini membuat banyak turis merasa tidak nyaman saat berwisata. Suhu yang mencapai rekor tinggi di sejumlah kota menyebabkan aktivitas luar ruangan menjadi melelahkan, bahkan berisiko bagi kesehatan. Wisatawan yang biasanya menikmati berjalan kaki di pusat kota bersejarah, berjemur di pantai, atau menjelajahi destinasi alam kini harus membatasi kegiatan mereka karena paparan panas berlebihan.

Bagi banyak wisatawan, kegembiraan dengan cepat berubah menjadi kekecewaan setelah tiba di hotel di Eropa pada puncak musim panas, ketika gelombang panas berpadu dengan tidak adanya AC di dalam kamar. Kekecewaan ini telah memicu gelombang konten viral di berbagai platform seperti TikTok, X, dan Reddit.

Kondisi ini juga memengaruhi sektor pariwisata, karena hotel, restoran, dan penyedia layanan perjalanan harus menyesuaikan diri dengan permintaan turis yang lebih banyak mencari ruang ber-AC. Selain itu, waktu kunjungan yang lebih singkat, serta aktivitas di pagi atau malam hari, mengutip VnExpress, Minggu (9/8/2026).

Para pelancong secara rutin mengunggah video yang memperlihatkan kamar mereka yang panas terik. Mereka juga mengejek kurangnya fasilitas pendingin dasar di akomodasi mahal di kota-kota ternama di Eropa, seperti Paris, Roma, dan London.

Baca Juga: Destinasi Maritim Kelas Dunia, Indonesia Dorong Pariwisata Kapal Pesiar

Menurut portal perjalanan Europe Express, beberapa properti, terutama di destinasi populer di Eropa selatan seperti Italia, mengenakan biaya tambahan per malam, untuk AC di dalam kamar. Suhu setidaknya 40°C melanda Prancis, Spanyol, dan negara-negara tetangga pada akhir Juli, dipicu oleh gelombang panas keempat di benua tersebut sejak Mei.

Penelitian menunjukkan bahwa Eropa adalah benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, dengan laju pemanasan dua kali lipat dari rata-rata global. Namun, penggunaan AC masih jarang, dengan tingkat penetrasi hanya sekitar 20% dibandingkan dengan 90% di AS dan Jepang.

Hambatan utamanya terletak pada fakta bahwa banyak hotel berada di dalam bangunan yang berusia puluhan atau bahkan ratusan tahun. Menambahkan sistem pendingin udara modern ke bangunan berusia 400 tahun sangatlah mahal, dan dalam banyak kasus secara fisik tidak mungkin dilakukan atau terhalang oleh undang-undang perlindungan bangunan yang ketat.

Banyak bangunan tradisional Eropa dibangun secara khusus untuk mempertahankan panas selama musim dingin yang dingin. Bahkan jika hotel-hotel bersejarah ingin memasang sistem pendingin modern, kebijakan iklim Eropa yang ketat menimbulkan masalah besar lainnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Malcolm Mistry, asisten profesor di London School of Hygiene and Tropical Medicine, dalam laporan majalah TIME mengenai infrastruktur Eropa, rumah-rumah di negara-negara seperti Inggris dan Prancis pada dasarnya “berfungsi sebagai tungku pemanas.”

Uni Eropa menargetkan penghapusan bertahap hidrofluorokarbon (HFC), zat pendingin umum dalam unit AC yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, pada tahun 2050. Karena masalah struktural dan kebijakan ini tidak akan teratasi dalam semalam, beban akhirnya jatuh pada para pengunjung untuk bersiap menghadapi panas.

Untuk menghindari liburan yang terasa sangat panas dan tidak nyaman, perencanaan yang cermat menjadi sangat penting. Wisatawan sebaiknya memeriksa fasilitas kamar, khususnya AC, saat menelusuri platform pemesanan, tetapi juga disarankan untuk menghubungi hotel secara langsung dan menanyakan apakah ada biaya tambahan harian untuk penggunaannya.

Membawa pakaian berbahan ringan dan bernapas, kipas angin portabel, serta handuk pendingin juga dapat membuat perbedaan. Sebagai alternatif, wisatawan dapat mempertimbangkan untuk memindahkan jadwal perjalanan mereka dari musim panas puncak pada bulan Juli dan Agustus ke “musim peralihan” seperti Mei, Juni, atau akhir September, ketika cuaca lebih dapat ditoleransi dan tidak adanya AC tidak akan merusak pengalaman liburan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *