ASIAWORLDVEW – Agen +62, film komedi aksi Indonesia terbaru yang tayang mulai hari ini, Kamis (3/7/2025). Disutradarai oleh Dinna Jasanti dan dibintangi oleh Rieke Diah Pitaloka, Keanu AGL, dan Cinta Laura Kiehl. Film ini menyuguhkan perpaduan antara humor khas lokal dan kritik sosial yang tajam terhadap maraknya judi online (judol) di Indonesia.
Kisahnya mengenai dua agen rahasia kelas bawah dari lembaga fiktif PUANAS (Pusat Usaha Nasional), yang ditugaskan menyusup ke jaringan sindikat judol yang sangat terorganisir. Karena status mereka yang rendah, data mereka luput dari peretasan besar-besaran, dan justru itu yang membuat mereka jadi harapan terakhir.
Kembalinya Rieke Diah Pitaloka lewat peran Martha, agen senior yang cerdas dan nyentrik, disambut hangat oleh publik. Banyak yang menyebut penampilannya di Agen +62 sebagai “Oneng yang naik pangkat”—masih jenaka, tapi kini dengan misi menyelamatkan negara dari sindikat judi online.
Baca Juga: Netflix Tayangkan Film Dokumenter Kebangkitan NFT
Dalam penyamaran mereka, mereka menemukan bahwa anak-anak panti asuhan dijadikan operator situs judi oleh Jessica (Cinta Laura), kekasih gelap seorang calon gubernur korup. Misi mereka berkembang menjadi perjuangan rakyat biasa melawan kekuasaan yang menyimpang.
Agen +62 bukan hanya film, tapi juga bentuk kesadaran kolektif yang dikemas dalam tawa dan aksi. Ini juga juga menjadi ajang simbolik pemberantasan judi online (judol) di Indonesia. Lewat pendekatan satir dan penyamaran absurd, film ini menyampaikan pesan serius tentang bahaya judol yang merambah hingga ke akar masyarakat.
Film ini juga mengenai penggunaan teknolog yang canggih. Digambarkan ada server mirror, deep web backup, dan penyamaran IP internasional. Bahkan ada AI palsu yang dipakai untuk menarik anak muda.
Eksploitasi social, dengan anak-anak panti sebagai tenaga murah. ereka dilatih mengelola situs, karena “tidak terdaftar secara hukum”—mereka dipilih karena jejak digital mereka minim dan mudah dikendalikan. Kemudian, uang hasil judol dibuat untuk membuat bisnis legal dengan membuka salon dan restoran mewah, bahkan sering mensponsori acara amal.
Sindikat judol dalam film digambarkan sangat terstruktur, melibatkan politisi korup, teknologi canggih, dan eksploitasi anak-anak panti asuhan sebagai operator situs. Kondisi tersebut seolah menjadi gambaran bisnis ilegal yang harus diperangi.
