Ini Bukti Masyarakat Indonesia Terobesesi dengan Mi Instan

Mi instan.

ASIAWORLDVIEW – Masyarakat Indonesia punya hubungan yang sangat erat dengan mi—seperti bakmi, mi ayam, atau mi Aceh. Namun mi instan dianggap sebagai juaranya.

Penjualan mi instan di Indonesia terus menunjukkan tren naik—dan bukan cuma karena rasanya yang menggoda, tapi juga karena jadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Indonesia mengonsumsi 14,54 miliar bungkus mi instan pada 2024, menjadikannya konsumen terbesar kedua di dunia setelah China.

Indofood CBP, produsen Indomie, mencatat penjualan mi instan sebesar Rp53,87 triliun sepanjang 2024, naik dari Rp50,43 triliun pada 2023. Menurut survei Top Brand 2024, Indomie tetap jadi merek favorit dengan tingkat pengenalan 71,2%, diikuti Mie Sedaap (13,9%) dan Gaga 100 (4,2%).

Mie instan ditemukan di Jepang pada tahun 1958 oleh Momofuku Ando, yang selamanya merevolusi makanan cepat saji yang terjangkau. Namun, tidak butuh waktu lama bagi mi untuk menjadi populer. Akhirnya, sampai di Indonesia pada akhir 1960-an.

Baca Juga: Riset: Konsumsi dan Penjualan Meningkat, Mi Instan Jadi Menu Wajib saat Ramadan

Pada tahun 1972, merek ikonik Indomie lahir dan diperkenalkan oleh Indofood, raksasa makanan Indonesia. Terjangkau, lezat, dan mudah disiapkan, Indomie dengan cepat menjadi solusi utama bagi orang Indonesia yang mencari makanan yang murah dan memuaskan.

Salah satu alasannya, harga mi instan terjangkau, ada yang dijual sekitar Rp1.500 hingga Rp15.000. Mi instan adalah penyelamat hidup bagi pelajar, pekerja, dan keluarga. Mereka ditemukan di mana-mana—warung, supermarket, bandara, dan bahkan kios pinggir jalan.

Uniknya, masyarakat berkreasi dengan mi. Dari burger mi goreng hingga martabak isi mie, kreativitas tidak mengenal batas. Restoran lokal bahkan menyajikan versi gourmet dengan telur, daging, dan sayuran yang ditumpuk tinggi.