ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah hari ini, Selasa (30/6/2026), di level 5.798 poin. Angkanya turun dari penutupan sebelumnya di 5.820,79 poin.
Kondisi ini menunjukkan tren koreksi masih berlanjut, dengan indeks berada di bawah moving average (MA) 20 harian, sehingga menandakan tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Area support utama di 5.750–5.784 menjadi batas bawah yang harus dijaga agar pelemahan tidak berlanjut lebih dalam. Sementara resistance jangka pendek di 5.850–5.870 menjadi target rebound jika sentimen positif kembali menguat.
Pelemahan IHSG hari ini banyak dipengaruhi oleh tekanan jual pada saham big caps seperti BBCA, BMRI, TLKM, BBRI, dan TPIA, yang menjadi penekan utama indeks. Meski demikian, ada harapan rebound karena bursa AS menguat signifikan: Dow Jones menembus 52.000, S&P 500 naik 1,18%, dan Nasdaq melesat 2,07%.
Sentimen global ini memberi peluang bagi pasar Asia, termasuk Indonesia, untuk ikut terkerek. Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendukung optimisme investor regional. Namun, faktor negatif tetap ada, terutama dari net foreign sell yang mencapai Rp854 miliar pada perdagangan sebelumnya, menunjukkan investor asing masih cenderung keluar dari pasar domestik.
Baca Juga: IHSG Menguat Tipis, Level 6.000 Jadi Resistance Psikologis
Risiko yang dihadapi IHSG cukup besar. Jika indeks menembus di bawah 5.750 poin, pelemahan bisa berlanjut ke 5.700 atau lebih rendah. Ketergantungan pada arus modal asing membuat IHSG rentan terhadap tekanan eksternal.
Selain itu, mayoritas sektor masih negatif, kecuali sektor kesehatan yang bertahan positif. Dalam jangka pendek, peluang rebound tetap terbuka jika sentimen global terus positif, dengan target resistance di 5.850–5.870 poin.
Analis MNC Sekuritas merekomendasikan saham seperti BRIS, IMPC, INDY, dan SUPA dengan strategi buy on weakness, artinya investor bisa memanfaatkan pelemahan harga untuk masuk ke saham-saham berfundamental kuat.
Strategi yang disarankan bagi investor adalah fokus pada saham defensif dan sektor yang memiliki dukungan fundamental solid, sambil terus mencermati arus modal asing dan intervensi kebijakan pemerintah.

