ASIAWORLDVIEW – Tren wisata mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Terjadi pergeseran mendasar pada preferensi wisatawan global, termasuk di Indonesia. Semakin banyak orang tidak lagi tertarik pada paket tur massal yang serba cepat dan penuh sesak dengan destinasi instagramable semata. Sebaliknya, mereka mendambakan pengalaman perjalanan yang terasa personal, intim, dan benar-benar menyentuh kebutuhan batin.
Wisatawan masa kini ingin diperlakukan sebagai individu unik dengan minat, ritme, dan tujuan yang berbeda—bukan sekadar nomor antrean di bus wisata. Mereka mencari interaksi yang autentik dengan penduduk lokal, akomodasi yang mencerminkan karakter daerah, serta fleksibilitas untuk mengubah rencana sesuai suasana hati.
“Saat ini semakin banyak wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan yang terasa personal, dekat dengan alam, dan memberi kesempatan untuk rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari” ujar Cisyelya Bunyamin, SVP of Accommodations, tiket.com.
Personalisasi ini bisa berupa menu sarapan yang disesuaikan dengan alergi atau preferensi diet, pemandu wisata yang mengajak berdiskusi panjang tentang filosofi hidup masyarakat setempat, atau bahkan jadwal perjalanan yang sengaja dikosongkan untuk sekadar duduk di teras kafe sambil membaca buku.
Baca Juga: Riset: Wisatawan Indonesia, Pencinta Kuliner Teratas di Asia
Selain personal, kedekatan dengan alam menjadi faktor penentu yang tak terelakkan. Pandemi Covid-19 yang melanda beberapa tahun lalu meninggalkan kesadaran kolektif bahwa udara segar, pepohonan, air jernih, dan ketenangan alam memiliki kekuatan menyembuhkan yang tidak bisa digantikan oleh pusat perbelanjaan atau taman hiburan buatan.
Wisatawan berbondong-bondong meninggalkan kepadatan kota untuk menuju pegunungan, pantai terpencil, hutan pinus, perkebunan teh, atau desa-desa yang masih asri. Mereka tidak hanya ingin melihat alam dari balik kaca jendela kendaraan, tetapi benar-benar mengalami alam.
Aktivitas seperti glamping, trekking, bersepeda di tengah sawah, atau sekadar berdiam di vila dengan pemandangan gunung menjadi sangat diminati karena menawarkan koneksi sensorik yang utuh dengan lingkungan.
Selain itu, kesempatan untuk rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari yang melelahkan. Di era di mana batasan antara kerja dan istirahat semakin kabur—berkat notifikasi kantor yang terus berdering di ponsel—banyak orang mengalami kelelahan kronis (burnout) secara diam-diam.
Wisata kini tidak lagi dipandang sebagai ajang pamer pencapaian (misalnya mengunjungi 10 negara dalam 2 minggu), melainkan sebagai ritual pemulihan. Mereka ingin melepaskan diri dari tumpukan surel, rapat virtual yang membosankan, kemacetan, dan target-target yang tiada henti.
