BI Yakin Rupiah Menguat Mulai Juli 2026

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

ASIAWORLDVIEWBank Indonesia (BI) secara tegas meyakini bahwa nilai tukar rupiah akan kembali menunjukkan penguatan mulai Juli 2026 seiring dengan mulai meredanya lonjakan permintaan valuta asing (valas) yang bersifat musiman.

Keyakinan ini disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5/2026), di tengah tekanan yang membawa rupiah menyentuh level terendah baru di kisaran Rp17.600-an per dolar AS.

“Kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta.

Perry meyakini bahwa rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Prabowo Yakini Ekonomi Kokoh

Sementara itu, rerata nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (year to date/ytd) berada pada kisaran Rp16.900 per dolar AS. Meski demikian, bank sentral optimistis penguatan rupiah pada Juli dan Agustus akan menurunkan rerata tahunan kembali ke rentang target APBN.

Landasan utama optimisme ini adalah keyakinan bahwa pelemahan yang terjadi saat ini hanyalah fenomena temporer. Kondisi ini didorong oleh kebutuhan dolar AS yang meningkat tajam pada periode April hingga Juni 2026.

Meningkatnya permintaan valas pada periode tersebut, menurut Perry, disebabkan oleh tiga faktor musiman utama yang terjadi bersamaan. Pertama, adanya kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen oleh perusahaan-perusahaan terbuka yang biasanya dibagikan pada kuartal kedua. Kedua, adanya kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri baik oleh pemerintah maupun sektor swasta. Ketiga, adanya kebutuhan devisa untuk perjalanan ibadah haji yang melibatkan jutaan jemaah Indonesia setiap tahunnya. Ketiga faktor ini menciptakan tekanan besar pada pasokan dolar di pasar domestik, yang kemudian diperparah oleh kondisi global yang kurang menguntungkan.

Dari sisi global, Bank Indonesia menyoroti sejumlah faktor yang turut menekan rupiah, yang terutama dipicu oleh memburuknya situasi geopolitik pasca pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari 2026. Konflik ini telah memicu kenaikan harga minyak dunia, peningkatan risk premium yang tercermin dari kenaikan Credit Default Swap (CDS), serta mendorong penguatan dolar AS secara luas terhadap mata uang negara berkembang lainnya.

Selain itu, data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi, dengan Consumer Price Index (CPI) tercatat naik ke level 3,8% year-on-year pada April 2026, membuat peluang pemangkasan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) semakin kecil dan bahkan memunculkan spekulasi kenaikan suku bunga. Kondisi ini secara langsung membuat aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang menarik, yang memicu arus keluar modal (capital outflow) dan memperlemah rupiah lebih lanjut. Bank Indonesia mencatat, pada periode Januari-Maret 2026 saja, pasar saham mengalami arus keluar sebesar Rp26,06 triliun dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami arus keluar sebesar Rp25,1 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *