ASIAWORLDVIEW – Memasak makanan yang baik untuk anak perlu memperhatikan keseimbangan gizi, rasa yang sesuai selera mereka, serta cara pengolahan yang aman dan sehat. Kunci utamanya adalah menggunakan bahan segar, menghindari bumbu berlebihan, dan memastikan makanan kaya akan protein, serat, vitamin, serta mineral.
Dokter dan ahli gizi masyarakat lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum menjelaskan, makanan yang digoreng memang cenderung mengalami penurunan kualitas gizi. Hal itu karena proses penggorengan menggunakan suhu tinggi dapat merusak beberapa vitamin dan mineral penting, seperti vitamin A, E, dan beberapa vitamin B yang sensitif terhadap panas.
“Makanan yang digoreng (deep fry) menghasilkan karsinogen pemicu kanker, akibat dari kontaminasi akrilamida dan polisiklik aromatik hidrokarbon, yakni senyawa yang terbentuk akibat interaksi karbo atau protein dengan suhu tinggi,” ia menyebutkan.
Baca Juga: Perkuat Edukasi Kesehatan Ibu dan Anak Lewat Program Sahabat Posyandu
Selain itu, minyak yang digunakan dalam penggorengan dapat menyerap ke dalam makanan. Alhasil menambah kandungan lemak jenuh dan kalori, yang tidak ideal bagi kebutuhan nutrisi anak.
Jika minyak digunakan berulang kali, risiko terbentuknya senyawa berbahaya seperti radikal bebas juga meningkat. Akibatnya, meskipun makanan gorengan terasa lebih gurih dan disukai anak, kandungan gizinya berkurang dan justru bisa berdampak negatif terhadap kesehatan jangka panjang.
Ia merekomendasikan makanan selain digoreng, bisa disajikan dengan cara dipepes, kuah dengan bumbu asam atau kuah santan. Sajian ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan anak namun juga bisa dikonsumsi seluruh anggota keluarga untuk mengurangi makanan yang mengandung lemak jahat.
“Lebih baik memilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, mengukus, atau memanggang agar nutrisi tetap terjaga dan anak mendapatkan asupan gizi yang optimal,” ia menambahkan.
