ASIAWORLDVIEW – Perang Amerika Serikat (AS)-Iran yang didukung Israel telah mengganggu aktivitas ekonomi di Timur Tengah. Apalagi di kawasan Teluk, dengan dampak langsung pada perdagangan, energi, dan stabilitas pasar global.
Selat Hormuz, yang menjadi rute utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, kini berada dalam kondisi rawan sehingga arus perdagangan terganggu dan biaya logistik meningkat. Dampak langsungnya terlihat pada lonjakan harga energi, di mana harga minyak mentah melonjak tajam dan memicu inflasi di negara-negara pengimpor energi, sehingga menekan daya beli masyarakat.
“Saya sarankan kalau daerah Teluk ini aman terhadap serangan-serangan, maka otomatis perdagangan lebih enak,” ujar Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Mohamad Bawazeer, Sabtu (4/4/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Krisis Energi Dunia Kian Dalam
Selain itu, aktivitas ekonomi lokal di kawasan Teluk juga menurun karena perdagangan terganggu. Akhirnya membuat pelaku usaha kesulitan menjaga stabilitas bisnis di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut.
Perang Iran–AS telah merusak kegiatan perekonomian di kawasan Timur Tengah dengan dampak nyata pada sektor perdagangan dan logistik. Tarif dasar pengiriman barang internasional melalui laut (ocean rate) melonjak hingga tiga kali lipat, membuat biaya ekspor-impor semakin tinggi.
Selain itu, banyak perusahaan perkapalan enggan mengeluarkan nomor booking karena khawatir terhadap risiko perang, sehingga memilih sikap wait and see. Sebagian kapal bahkan menghindari jalur Bab-el-Mandeb di Laut Merah dan memilih rute memutar melalui benua Afrika menuju Terusan Suez di Mesir.
Waktu pengiriman barang yang biasanya hanya 15–20 hari ke pelabuhan utama seperti Dammam dan Jeddah kini bisa memakan waktu hingga dua bulan. Kondisi ini menekan kelancaran perdagangan, meningkatkan biaya operasional, dan memperlambat arus barang di kawasan yang menjadi pusat energi dan logistik dunia.
