Defisit APBN 2026 Tetap Aman di Tengah Krisis Global

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

ASIAWORLDVIEW – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap terkendali di bawah 3 persen. Berada pada level 2,9 persen, meskipun dunia tengah menghadapi lonjakan harga energi.

“Ini sudah kami hitung semua. Nanti bahkan dengan rata-rata (harga minyak dunia) 100 (dolar AS per barel) pun kami sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen. Itu sekitar 2,9 persen,” sebutnya, dikutip Asiaworldview, Kamis (2/4/2026).

APBN 2026 semula diproyeksikan mengalami defisit Rp698,15 triliun, atau setara 2,68 persen terhadap PDB. Terdapat tambahan proyeksi defisit sebesar 0,12 persen akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Menjaga defisit APBN tetap terkendali di bawah 3 persen memberikan sejumlah dampak positif bagi perekonomian nasional. Hal ini mencerminkan disiplin fiskal pemerintah sehingga meningkatkan kepercayaan investor dan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Wamenkeu: APBN 2026 Siap Hadapi Risiko Global, Defisit Terjaga di Bawah 3%

Defisit yang rendah membantu menjaga rasio utang terhadap PDB tetap sehat, sehingga beban pembayaran utang di masa depan lebih ringan. Dengan ruang fiskal yang stabil memungkinkan pemerintah tetap mendanai program prioritas seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan tanpa menimbulkan risiko fiskal berlebihan.

Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan kepercayaan pasar. Selain itu, memastikan ruang fiskal tetap tersedia untuk mendukung program prioritas nasional.

Pemerintah juga berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan pembiayaan pembangunan dan kewaspadaan terhadap risiko global. Alhasil perekonomian Indonesia tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.