ASIAWORLDVIEW – Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Lebaran dilakukan serentak dengan Arab Saudi. Hal itu dilakukan berdasarkan metode hisab global yang mereka gunakan secara konsisten.
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dikembangkan Muhammadiyah adalah sistem penanggalan Islam berbasis hisab astronomis yang bertujuan menyatukan kalender Hijriah di seluruh dunia. Dengan metode hisab hakiki wujudul hilal, Muhammadiyah memastikan bahwa awal bulan baru ditetapkan ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, meskipun hilal tidak terlihat dengan mata telanjang.
KHGT memberikan kepastian tanggal jauh hari sebelumnya, sehingga umat Islam dapat merencanakan ibadah dan kegiatan dengan lebih teratur. Selain itu, gagasan KHGT mencerminkan upaya Muhammadiyah untuk mengurangi perbedaan penetapan hari besar Islam antar negara, sekaligus menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam penentuan waktu ibadah.
Baca Juga: Tips Nyaman Berkendara Jarak Jauh Saat Mudik Lebaran 2026
Pergejolakan dalam menentukan awal Ramadhan, Syawal serta 10 Dzulhijjah sering terjadi di tengah-tengah umat, namun pada hakikatnya kembali lagi kepada Al-Qur‟an dan Sunnah. Hisab dan Rukyat menggunakan dalil yang sama namun hasil dari kesimpulannya berbeda-beda sesuai cara menelaahnya. Rukyat maupun hisab keduanya menggunakan dalil yang sama, dan kesimpulan yang didapat berbeda sesuai cara menelaahnya.
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. (Al-Baqarah: 185).
Perbedaan penasiran terletak pada kata “Syahida” yaitu saksi. Bagi aliran rukyat “syahida” diartikan menyaksikan dengan mata telanjang. Sementara aliran isab memaknai kata “Syahida” secara lebih rasional yakni penyaksian tidak harus dengan mata kepala tapi dapat juga dengan mengarah kepada kebenaran yang hakiki.
