BI: Keyakinan Konsumen Tetap Optimis Februari 2026

Bank Indonesia.

ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) melalui Survei Konsumen mencatat bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat pada Februari 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di atas angka 100, menandakan kondisi optimis.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif​ Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Senin (9/3/2026). Menurutnya, tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 115,9, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya yang sebesar 115,1.

“BI mencatat bahwa meningkatnya IKE bersumber dari kenaikan seluruh komponen pembentuknya,” ia mengatakan.

Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) tercatat masing-masing sebesar 125,0, 110,7, dan 112,0, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 123,7, 109,9, dan 111,8.

Baca Juga: Bank Indonesia Pastikan Ketahanan Ekonomi, Cadangan Devisa Tembus USD156,5 Miliar

Sementara itu, mengenai ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada level optimis sebesar 134,4, meski lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 138,8.

BI mencatat, tetap kuatnya IEK bersumber dari optimisme ekspektasi penghasilan, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja, dan ekspektasi kegiatan usaha yang masing- masing tercatat sebesar 140,7, 131,7, dan 130,9.

Mengenai kondisi keuangan konsumen, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 71,6 persen pada Februari 2026, lebih rendah dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 72,3 persen.

Posisi IKK tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi nasional, baik dari sisi pendapatan, ketersediaan lapangan kerja, maupun ekspektasi terhadap prospek ekonomi ke depan.

“Optimisme ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, sekaligus mencerminkan bahwa daya beli masyarakat relatif terjaga di tengah dinamika global dan domestik,” pungkasnya.