NFT Populer tapi Rentan, Pencurian Digital Jadi Ancaman Serius

Hacker.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Beberapa kasus pencurian Non-Fungible Token (NFT) besar telah mencuri perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya terjadi pada awal 2022 ketika peretas berhasil mencuri sekitar USD18,7 juta token dari Lympo, sebuah platform NFT olahraga.

Insiden ini menunjukkan betapa rentannya aset digital terhadap serangan siber, terutama karena NFT tersimpan di dompet digital dan diperdagangkan melalui bursa online yang sering menjadi target hacker.

Pencurian tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian finansial besar bagi platform dan penggunanya, tetapi juga menyoroti pentingnya sistem keamanan yang lebih kuat dalam ekosistem NFT.

Kasus Lympo menjadi contoh nyata bahwa meskipun NFT menawarkan peluang investasi dan koleksi digital yang unik, risiko keamanan tetap menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi oleh pemilik aset maupun penyedia layanan.

Baca Juga: Hacker Korea Utara Tertangkap Basah Targetkan Pengembang Web3 dan Kripto

Para hacker membobol 10 dompet berbeda yang terhubung ke platform tersebut. Pada tahun yang sama, akun Instagram Bored Ape Yacht Club diretas. Pencuri mengambil banyak NFT berharga, termasuk Bored Apes dan lainnya, dengan total nilai sekitar USD14 juta.

Pada 2021, sebuah game bernama Farmers World kehilangan sekitar USD15,7 juta akibat peretasan. Beberapa laporan menyebutkan angka tersebut mungkin lebih besar.Gambar domain publik courtesy of maxpixel.

CC0DragonSB Finance, sebuah proyek game NFT, kehilangan USD10 juta ketika peretas meretas kontrak pintar mereka pada tahun 2022.

OpenSea, pasar NFT populer, menjadi sasaran serangan phishing pada tahun 2022. Peretas mencuri NFT senilai sekitar USD3,4 juta, meskipun mereka kemudian mengembalikan beberapa yang belum terjual.