ASIAWORLDVIEW – Perekonomian Indonesia akan menguat pada kuartal keempat 2025. Kondisi tersebut didukung oleh likuiditas perbankan yang stabil dan kebijakan moneter yang akomodatif.
Analis UOB Kay Hian Suryaputra Wijaksana mengatakan bahwa aktivitas ekonomi diperkirakan akan meningkat sejalan dengan percepatan belanja pemerintah. Dalam risetnya menemukan, peningkatan yang diproyeksikan ini juga didorong oleh stabilitas politik yang membaik dan meningkatnya kepercayaan bisnis dan konsumen pada kuartal keempat 2025, yang diharapkan mendukung percepatan moderat dalam pertumbuhan kredit hingga akhir 2025.
“Peningkatan realisasi belanja fiskal dan perbaikan sentimen domestik akan mendorong pertumbuhan M2 (uang beredar) yang lebih stabil dan memperkuat fondasi ekonomi seiring mendekati akhir tahun,” katanya, dikutip Asiaworldview.com, Rabu (29/10/2025).
Dia mengatakan likuiditas dari penempatan dana pemerintah di Asosiasi Bank Milik Negara (Himbara) masih menunggu panduan teknis sebelum dapat didistribusikan ke sektor riil. Likuiditas perbankan yang berlebih mengalir ke pasar obligasi pemerintah, mendorong permintaan tinggi dan menyebabkan penurunan signifikan pada imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada September 2025.
Baca Juga: Gubernur BI: Inflasi Tetap Stabil, BI-Rate Turun ke Level Terendah sejak 2022
Selain itu, dia mengatakan kondisi ini juga diperkuat oleh pembelian obligasi oleh Bank Indonesia (BI), yang semakin memperkuat pasar sekuritas domestik. Di sisi lain, ia memperkirakan tekanan inflasi diperkirakan tetap terkendali meskipun likuiditas meningkat, dengan inflasi diperkirakan sebesar 2,7 persen pada 2025, atau masih dalam kisaran target BI sebesar 1,5 hingga 3,5 persen.
“Dengan permintaan obligasi pemerintah jauh melebihi pasokan, imbal hasil obligasi cenderung turun,” kata Wijaksana.
Dengan inflasi yang stabil dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, ia percaya bahwa BI akan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar untuk mendorong ekspansi kredit dan mempertahankan momentum pemulihan.Pasar obligasi yang solid, dan kebijakan moneter yang mendukung, ia juga yakin Indonesia tetap berada di jalur yang kuat untuk mempertahankan momentum ekonomi hingga 2026.
