ASIAWORLDVIEW – Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menekankan bahwa Indonesia harus mengeksplorasi dan mempromosikan komoditas hijau. Hal itu karena pasar global sudah mulai bergeser ke perdagangan yang berkelanjutan.
Ia menilai kesadaran masyarakat akan pertumbuhan ekonomi hijau sudah ada. Dalam konteks perdagangan, pemerintah dinilai perlu mencari cara untuk mengembangkan komoditas hijau.
“Isu ini mendapat perhatian publik. Dalam konteks perdagangan, kita harus mendorong dan mempromosikan ekonomi untuk memajukan ekonomi hijau,” ujar Putri dalam acara Indonesian Sustainable Trade and Investment Report 2025 di Jakarta, Jumat (20/6/2025).
Baca Juga: Indeks Menabung Konsumen Turun pada Mei 2025: Masyarakat Pilih Bayar Kebutuhan hingga Utang
Putri menegaskan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai emisi nol pada tahun 2060. Target ini juga telah disepakati oleh berbagai pihak dan sedang diupayakan secara bersama-sama.
Di sektor perdagangan, terdapat perjanjian perdagangan yang mengutamakan komoditas ramah lingkungan, mulai dari hulu hingga hilir.
Pemerintah juga menargetkan net zero emission pada 2060 dan pengurangan emisi 32% pada 2030, yang menjadi fondasi kebijakan perdagangan hijau nasional. Bahkan, meski menghadapi proteksionisme dari negara-negara besar, Indonesia tetap teguh menjadikan perdagangan berkelanjutan sebagai prioritas.
Langkah-langkah ini bukan cuma soal ekspor, tapi juga soal daya saing jangka panjang dan menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. Kalau kamu tertarik, aku bisa bantu identifikasi sektor atau produk lokal yang punya potensi jadi komoditas hijau unggulan.
