Prabowo Tegaskan Indonesia Harus Lepas dari Ketergantungan Impor Minyak dan Gas

Presiden Prabowo Subianto.

ASIAWORLDVIEW – Presiden Prabowo Subianto menyoroti ketergantungan Indonesia pada impor minyak dan gas sebagai ancaman bagi ekonomi nasional. Dalam pidatonya, ia mengungkapkan bahwa Indonesia menghabiskan sekitar USD 40 miliar per tahun untuk impor energi, yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan.

Prabowo menegaskan bahwa swasembada energi adalah kunci kedaulatan nasional dan berkomitmen untuk meningkatkan produksi minyak dan gas domestik. Ia juga mengumumkan peluncuran dua ladang minyak dan gas baru di Forel dan Terubuk, Natuna, yang sepenuhnya dikelola oleh tenaga kerja Indonesia.

“Uang ini harus dialihkan untuk pendidikan, perawatan kesehatan, dan pemberantasan kemiskinan,” kata Prabowo, menggarisbawahi urgensi transisi menuju produksi energi dalam negeri.

Baca Juga: Prabowo: Indonesia-Qatar Hadapi Tantangan Global, Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, pemerintah berencana meningkatkan produksi minyak nasional menjadi 1 juta barel per hari pada 2030, serta mempercepat investasi di sektor energi melalui Danantara Indonesia, sebuah dana investasi strategis untuk proyek energi rendah emisi.

Prabowo juga memperingatkan bahwa regulasi yang menghambat investasi harus disederhanakan, dan pejabat yang tidak mendukung percepatan produksi energi akan diganti.

Dia menekankan bahwa ketahanan energi dan pangan merupakan landasan kedaulatan suatu negara. Tanpa kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri, Indonesia tetap rentan terhadap guncangan eksternal. Iklan

“Kedaulatan suatu negara dijamin oleh kemampuannya untuk memberi makan rakyatnya dan memenuhi seluruh kebutuhan energinya,” pungkasnya.