ASIAWORLDVIEW – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami kenaikan 6,4% pada kuartal I 2025, mencapai Rp7.117 triliun. Peningkatan ini terutama berasal dari sektor pemerintah, yang mencatat pertumbuhan 7,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Bank Indonesia menyebut bahwa kenaikan ULN pemerintah dipengaruhi oleh penarikan pinjaman baru dan masuknya modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Sementara itu, ULN swasta justru mengalami penurunan 1,2%, terutama dari sektor industri pengolahan dan jasa keuangan.
Pertumbuhan tersebut melampaui ekspansi 4,3 persen pada kuartal sebelumnya dan sebagian besar dikaitkan dengan lonjakan pinjaman sektor publik. Meskipun meningkat, Bank Indonesia mengatakan bahwa profil utang negara itu tetap sehat, didukung oleh pengelolaan fiskal yang hati-hati.
“Struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, didukung oleh strategi pengelolaan utang yang hati-hati,” kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Rp16.575 Terendah sejak 1998, Begini Dampaknya pada Indonesia
Rasio utang luar negeri terhadap PDB berada pada level aman sebesar 30,6 persen, dengan utang jangka panjang mencapai 84,7 persen dari total. Iklan Untuk menjaga keberlanjutan utang, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri. Baca Selengkapnya: Pemerintah Hapus Utang UMKM Rp 486 Miliar Lewat Program Bantuan Prabowo
“Kami akan terus mengoptimalkan peran utang luar negeri dalam membiayai program pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dengan tetap meminimalkan potensi risiko terhadap stabilitas makroekonomi,” imbuh Ramdan.
Utang Pemerintah Naik ditopang Kepercayaan Investor yang Menguat Utang pemerintah mencapai USD206,9 miliar pada Q1, naik 7,6 persen secara tahunan — jauh lebih tinggi dari pertumbuhan 3,3 persen yang tercatat pada Q4 2024. Peningkatan tersebut didorong oleh penyaluran pinjaman baru dan aliran modal asing yang kuat ke obligasi pemerintah (SBN) internasional, didorong oleh kepercayaan investor yang berkelanjutan terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah volatilitas pasar global.
