Hody Tas Lokal Bogor Tembus Ekspor Berkat Strategi Digital

MIra, owner tas Hody Bogor

Di sebuah kantor di kawasan Pasirmulya, Bogor Barat, puluhan tas tertata rapi di rak. Tempat ini adalah pusat operasional Hody, brand tas lokal yang kini merambah pasar ekspor. Bukan sekadar usaha, Hody tumbuh sebagai ruang pemberdayaan perempuan yang membawa dampak nyata bagi ribuan ibu rumah tangga

Mira Nur Gandaniati, pendiri Hody, memulai bisnisnya dari nol setelah keluarganya terlilit utang miliaran rupiah. Bermodal semangat bangkit dan tekad membantu sesama perempuan, Mira menciptakan Hody sebagai wadah ekonomi kreatif yang kini menembus pasar Malaysia, Brunei, hingga Australia.

Baca juga: Shopee Rayakan Hari Keluarga Sedunia Bersama Dhatu Rembulan dan UMKM Lokal

Kisah Inspiratif Lahirnya Tas Lokal Hody

Rak Tas Hody di ruangan kantor (Sumber: Aurelia Lois)

Hody, brand tas lokal asal Bogor, menjadi bukti bahwa krisis bisa melahirkan inovasi besar. Mira Nur Gandaniati, lulusan Manajemen IPB, merintis Hody pada 2019 setelah sebelumnya sempat menjual jam tangan dan membangun brand tas kulit Zola Leather. Ketika pandemi menghantam dan sistem penjualan tradisional goyah, Mira mengambil langkah cepat dan adaptif.

Tas lokal Hody hadir dengan bahan sintetis dan harga terjangkau, mulai dari Rp100 ribuan. Mira membangun sistem reseller tanpa modal yang memungkinkan ibu rumah tangga tetap produktif dari rumah.

Lewat kampanye “Recovery Together”, ia mengajak perempuan bergabung sebagai reseller dan berdaya secara ekonomi. Saat ini, Hody memiliki lebih dari 10 ribu reseller tersebar di seluruh Indonesia, dengan sekitar 10 persennya masih aktif.

Namun, Mira menyadari bahwa dunia digital terus berubah. Setelah pandemi, penjualan lewat reseller mulai menurun. Maka pada 2023, Mira membuka toko resmi Hody di Shopee, setelah melalui riset pasar mendalam.

Ia melihat bahwa mayoritas target pasarnya adalah perempuan usia 25 hingga 45 tahun, termasuk Gen Z dan milenial lebih banyak berbelanja di platform tersebut. Kini, penjualan dari marketplace menyumbang sekitar 70 persen dari omzet bulanan Hody yang sudah mencapai miliaran rupiah.

“Sebagai pemimpin, saya harus adaptif. Shopee jadi pilihan utama karena sesuai dengan perilaku belanja pelanggan kami,” ujar Mira. Ia membentuk tim digital marketing dari nol, termasuk host live dan pengelola iklan untuk mengoptimalkan performa di Shopee.

Mira Membangun Komunitas Digital

Display tas lokal Hody (Sumber: Aurelia Lois)

Tak hanya menjual tas lokal, Mira juga membangun komunitas pelanggan bernama Hodyctiv. Komunitas ini terbagi dalam level silver, gold, dan platinum.

Para anggota bisa mengikuti program afiliasi, mendapatkan komisi, dan mengikuti kelas pengembangan diri setiap bulan. Bagi Mira, brand tas lokal tak hanya soal produk, tapi juga tentang mendorong perempuan untuk percaya diri dan mandiri.

Tas lokal Hody dirancang untuk perempuan aktif. Setiap model mempertimbangkan fungsionalitas, keamanan, dan kenyamanan. Misalnya, handbag selalu dilengkapi tali panjang agar tetap praktis digunakan saat multitasking atau berkendara.

Semua produksi tas dilakukan di dalam negeri, tepatnya di Ciampea, Bogor. Mira menegaskan komitmennya terhadap produksi lokal dan keberlanjutan para pengrajin Indonesia.

Kini, tas lokal Hody telah dijual tak hanya di Indonesia, tapi juga di Shopee Malaysia dan menjangkau pasar Brunei serta Australia. Mira berencana menyasar segmen Gen Z dengan memperbarui desain tas agar tetap relevan di pasar digital.

“Sekarang pilihannya cuma dua: adapt or die. Jadi kami terus belajar dan berbenah,” tegasnya.

Baca juga: Bukipet Sukses Jadi Brand Pakaian Kucing Berkat Ekosistem Digital