ASIAWORLDVIEW – Bank Sentral Eropa (ECB) memajukan rencananya dalam meluncurkan euro digital untuk melawan kehadiran stablecoin mata uang asing yang terus bertambah. Selain itu, mengurangi ketergantungan pada perusahaan pembayaran Amerika Serikat (AS).
Kepala Ekonom ECB Philip Lane menekankan perlunya Eropa mempertahankan kontrol atas sistem keuangannya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dalam sebuah konferensi di Cork, Irlandia, Philip Lane menjelaskan bahwa penciptaan Euro digital kemungkinan besar akan mencegah perusahaan-perusahaan menggunakan stablecoin mata uang asing sebagai alat pembayaran di area Euro.
Baca Juga: Eropa Memimpin dalam Perbankan Kripto
Ia menyatakan bahwa inisiatif ini sangat penting untuk menjamin kemandirian moneter Eropa dan meminimalkan ketergantungan pada sistem pembayaran pihak ketiga.
Menurut ECB, memiliki euro digital akan menjadi sebuah kebutuhan mengingat penggunaan stablecoin yang terus meningkat, yang sebagian besar ditambatkan pada USD. Lembaga ini juga telah menyuarakan keprihatinannya terhadap beberapa ancaman ekonomi yang merambah operasinya dari ketergantungan pada sistem keuangan Amerika. Ini termasuk Visa, Mastercard, dan perusahaan teknologi seperti PayPal, Apple, dan Google.
Direktur Eksekutif Kelompok Kerja Presiden AS untuk Aset Digital, Bo Hines, telah memproyeksikan bahwa undang-undang stablecoin dapat diselesaikan dalam waktu dua bulan. Hines menekankan bahwa RUU yang paling mungkin untuk diloloskan adalah GENIUS Act milik Senator Hagerty, yang telah lolos dari Komite Perbankan Senat.
